<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Smart Magazine &#187; Redaksi</title>
	<atom:link href="http://smart.stkip-persis.ac.id/category/redaksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smart.stkip-persis.ac.id</link>
	<description>Majalah Mahasiswa STKIP Persis</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 11:12:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Presma BEM STKIP Persis 2009-2010</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 11:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Kami segenal crew Smart Magazine STKIP Persis mengucapkan selamat kepada Meiki Muttaqin atas terpilihnya sebagai Presma BEM STKIP Persis angkatan 2009-2010.
Semoga dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Amien!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami segenal crew Smart Magazine STKIP Persis mengucapkan selamat kepada Meiki Muttaqin atas terpilihnya sebagai Presma BEM STKIP Persis angkatan 2009-2010.</p>
<p>Semoga dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Amien!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Ta’ziyyah) Al-Ustadz Drs. Shiddiq Amien, MBA Meninggal Dunia</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/ta%e2%80%99ziyyah-al-ustadz-drs-shiddiq-amien-mba-meninggal-dunia/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/ta%e2%80%99ziyyah-al-ustadz-drs-shiddiq-amien-mba-meninggal-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un
Segenap Krue Smart Magazine STKIP Persis
Menyampaikan do’a ta’ziyah atas wafatnya:
Al-Ustadz Drs. Shiddiq Amien, MBA
(Ketua Umum PP. Persatuan Islam)
Pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009 M di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Segenap Krue Smart Magazine STKIP Persis</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Menyampaikan do’a ta’ziyah atas wafatnya:</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff6600;">Al-Ustadz Drs. Shiddiq Amien, MBA</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff6600;">(Ketua Umum PP. Persatuan Islam)</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009 M di RS. Al-Islam, Bandung</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Dalam usia 54 tahun</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #339966;">Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan oleh Allah swt, dan semua jama’ah yang ditinggalkan bisa meneruskan perjuangan beliau.</span></h2>
<h2 style="text-align: center;"><span style="color: #ff6600;">Bandung, 1 November 2009 M</span></h2>
<p><span style="color: #ff6600;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/ta%e2%80%99ziyyah-al-ustadz-drs-shiddiq-amien-mba-meninggal-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Cup of Tea</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 05:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa jurusan bahasa dan sejarah terjangkit penyakit Gapkom, betulkah? Saya yakin dan Anda pun pasti sependapat, baik komunikasi verbal maupun non verbal adalah &#8220;a cup of tea&#8221;nya mahasiswa yang bergelut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mahasiswa jurusan bahasa dan sejarah terjangkit penyakit Gapkom, betulkah? Saya yakin dan Anda pun pasti sependapat, baik komunikasi verbal maupun non verbal adalah &#8220;a cup of tea&#8221;nya mahasiswa yang bergelut dengan bahasa dan sejarah.</p>
<p>Secangkir teh, dingin ataupun hangat, manis ataupun tidak yang penting masih dalam porsi yang wajar, pasti menimbulkan kenikmatan yang tiada tara.</p>
<p>&#8220;A cup of tea&#8221; kiranya sudah menjadi sebuah <span id="more-114"></span>istilah dan kita pasti sudah mengerti maksud dari ungkapan tersebut.</p>
<p>Adalah dia yang sudah memutuska untuk mendalami serta menyelami dunia bahasa dan sejarah yang akan menerima cap seorang intelektual yang pandai berkomunikasi. Dan itu merupakan sebuah penghargaan yang secara otomatis orang berikan terkait dengan bidang ilmu yang tengah digeluti.</p>
<p>Tak heran jika dua bidang ilmu ini berada di deretan teratas dalam ilmu sosial. Maka dengan predikat tersebut sudah sewajarnya kita persiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan diberikan masyarakat. Jangan sampai mereka menganggap kita sebagai mahasiswa gagap</p>
<p>Nah seperti itulah <a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> readers kira-kira topik yang akan kami ulas pada edisi kali ini. Kami harap sedikit banyak dapat memberikan &#8220;Pencerahan&#8221; bagi kita semua.</p>
<p><a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> edisi cetak benomor VIII/Syawal 1430/Oktober 2009 dapat Anda dapatkan di sekretariat <a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> di kampus STKIP.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Terlupakan</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 06:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Main Article]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kebanggaan tersendiri pada zaman yang dianggap modern ini jika apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan orang-orang di barat sana dan ketika tidak sesuai dianggap lah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kebanggaan tersendiri pada zaman yang dianggap modern ini jika apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan orang-orang di barat sana dan ketika tidak sesuai dianggap lah tidak modern dan ketinggalan zaman. Hari ini bukan sedikit sesuatu yang datang dari barat dan seolah-olah hal tersebut modern tanpa tahu maksud dan kenapa hal tersebut ditirunya.</p>
<p>Secara teknologi kita akui bahwa barat lebih maju dan berkembang dibandingkan dengan Negara kita dan hal itulah yang seharusnya kita tiru untuk kemajuan bangsa (berfikir modern) dengan tidak melupakan identitas kita sebagai orang timur, namun yang banyak ditiru oleh anak bangsa hari ini bukan dari segi kemajuan teknologinya tetapi lebih kepada gaya hidup (Life style) mulai dari cara berpakaian yang sudah<span id="more-104"></span> hampir melupakan ketimurannya bahkan melupakan aturan agama yang telah dianutnya, pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang dulu benar-benar sangat sacral tapi hari ini semuanya telah berubah dan menjadi sesuatu yang lumrah bahkan dianggap ketinggalan zaman jika tidak berfikir dan bertindak seperti mereka.</p>
<p>Sesuatu yang datang dari barat tidak harus kita tolak secara mentah-mentah namun kita lah yang harus punya filter untuk menyaring kembali mana yang memang termasuk modernisasi yaitu untuk kemajuan bangsa dan mana yang termasuk westernisasi yang lebih condong kebarat dan melupakan identitas ketimuran kita. Karena jika kita kaji ternyata barat mempunyai visi yang sangat keji terhadap bangsa kita khususnya umat Islam namun mereka mampu membungkus dengan baik visi keji mereka sehingga sulit untuk diketahui bahkan banyak ulama yang ikut serta tehadap visi mereka entah ketidak tahuan mereka ataukah mempunyai visi yang sama seperti mereka.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya yang harus kita lakukan dengan keadaan yang tidak bisa kita halangi kedatangannya? diantara modernisasi dan westernisasi ternyata masih ada Islamisasi yang kadang hal itu dilupakan tetapi selalu menjadi solusi dan benteng. Dalam menyikapi perkembangan zaman seperti sekarang ini Islam adalah satu-satunya yang mampu menjadi solusi untuk keluar dari gejala westernisasi paling tidak mencegah hal tersebut sehingga umat tidak terlalu tergila-gila dengan sesuatu yang datang dari barat karena Islam pun ternyata lebih modern, tinggal kita sejauh mana kita mampu menterjemahkan Islam dalam sosialitas sehari-hari dan membentengi diri dari sesuatu yang ternyata bukan suatu ke moderenan tetapi lebih ke westernisasi (kebarat-baratan).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masyarakat kitab</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 06:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Main Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hal aneh ketika dalam kajian ataupun perkumpulan-pekumpulan umat islam yang menjadi objek perbincangan adalah islam itu sendiri beserta sendi-sendi yang ada didalamnya dari mulai aqidah sampai mauamalah bahkan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan hal aneh ketika dalam kajian ataupun perkumpulan-pekumpulan umat islam yang menjadi objek perbincangan adalah islam itu sendiri beserta sendi-sendi yang ada didalamnya dari mulai aqidah sampai mauamalah bahkan bisa dikatakan begitu sempurnanya Islam sampai-sampai seolah tidak ada celah untuk timbulnya kritik dari kubu umat islam itu, padahal orang mengatakan bahwa &#8220;kritik adalah sesuatu yang akan membangun&#8221; namun hal itu tidak berlaku untuk islam dan ideologinya.</p>
<p>Hal tersebut tidak bisa disalahkan karena memang ideology itu dibangun tidak sembarangan tetapi berdasarkan kekuatan dalil yang langsung dari pencipta Islam itu, seperti  dalam surat <span id="more-102"></span>Ali Imran ayat 3 “Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku ridho Islam menjadi agama kalian”.</p>
<p>Berdasarkan ayat itulah seolah kritik tertutup untuk Islam, dan tidak bisa dipungkiri bahwa diri kita pun merasakan hal itu. Islam adalah agama social dengan kata lain hadirnya Islam adalah untuk kemaslahatan umat mulai dari awal turunnya sampai nanti hari kiamat.</p>
<p>Hadirnya Rasul adalah untuk menterjemahkan (mensosialkan) maksud-maksud Allah terhadap umatnya dan dengan bimbingan Allah serta kesabaran diri Rasul akhirnya Islam pada saat itu berhasil disosialkan dan dengan hal itu tercipat masyarakat kitab yang hidup berdasarkan aturan-aturan islam.</p>
<p>Rasul begitu sempurna menterjemahkan Islam dalam kehidupan sehari-hari bahkan untuk mempermudah umatnya beliau membantu dengan hadits-hadits yang sampai saat ini masih kita baca dan diperbincangkan. Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa hari ini kesempurnaan Islam hanya menjadi perbincangan dan tidak sedikit orang yang tahu tentang Islam sampai sendi-sendinya tetapi hal itu hanya menjadi perbincangan semata, dan mereka adalah ahli kitab (pengkaji kitab).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meluruskan Arti Emansipasi</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Asma Nadia]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah Azzahra]]></category>
		<category><![CDATA[Helvy Tiana Rosa]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Khadijah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah Azzahra, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, adalah deretan nama – nama wanita muslimah yang berprestasi pada zamannya masing – masing. Walaupun begitu, keprestasian mereka tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah Azzahra, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, adalah deretan nama – nama wanita muslimah yang berprestasi pada zamannya masing – masing. Walaupun begitu, keprestasian mereka tak menjadikan mereka lupa akan kodrat mereka sebagai wanita muslimah.</p>
<p>Siti Khadijah dan Siti Aisyah tetap menjadi istri teladan bagi Rasulullah. Fatimah tetap menjadi anak yang berbakti pada ayah dan isteri yang telaten bagi Ali, suaminya. Pun, dengan Helvy dan Asma yang berperan sesuai dengan kewanitaannya. Hal ini berbeda dengan pandangan kebanyakan orang sekarang. Menurut mereka, <span id="more-97"></span>wanita disebut berprestasi jika mereka mampu menyamakan kedudukannya dengan laki – laki. Ya, itulah, yang kemudian kita kenal dengan istilah emansipasi.</p>
<p>Adalah salah jika kita berangapan bahwa Islam menjadi penghambat perkembangan wanita. Justru sebaliknya, jika kita tengok pada masa jahiliyah, wanita hanya dipandang sebelah mata. Wanita hanya dijadikan pemuas nafsu [maaf] seksual. Tidak lebih. Beda halnya ketika Islam datang. Citra wanita menjadi lebih baik. Wanita begitu sangat dihargai. Tak heran, muncullah tokoh – tokoh muslimah berprestasi, seperti sederetan nama diawal tulisan ini.</p>
<p>Secara gender, kedudukan wanita dan laki – laki memang tidak memiliki perbedaan yang sangat jauh. Ketika laki – laki mampu bermain bola, pada dasarnya wanitapun mampu bermain bola. Pun ketika laki – laki mampu bermain tinju, pada dasarnya wanitapun mampu bermain tinju. Yang tidak bisa dilakukan oleh seorang laki – laki dan hanya bisa dilakukan oleh wanita adalah melahirkan dan menyusui. Itu saja perbedaannya. Dan lagi – lagi, itu jika dilihat menurut gender.</p>
<p>Sedangkan, kalau kita lihat dari sisi yang lain selain gender, jelas wanita dan laki – laki sangatlah berbeda. Ini karena makhluk yang berlainan jenis ini mempunyai fungsi yang berbeda. Fungsi wanita tidak akan sama dengan laki – laki. Pun sebaliknya. So, dalam konteks apapun, wanita akan tetap menjadi wanita sesuai fitrahnya. Seharusnya dan sekudunya.</p>
<p>Oleh karena itu, adalah sangat menyedihkan jika hanya karena sebuah kata emansipasi, wanita harus menggadaikan kodratnya. Adalah sangat mengenaskan kalau hanya karena sebuah istilah gender, wanita harus menyalahi fitrahnya. Ah, zaman memang sudah semakin maju dan (mungkin) edan. Namun, haruskah insan terbaik yang hidup di dalamnya turut berperan serta menjadi edan? Haruskah kita, sebagai makhluk paling sempurna yang Allah ciptakan, membuat dunia yang sudah edan ini menjadi semakin edan dengan pola tingkah laku kita yang menyalahi kodrat dan kefitrahan kita? Wanita menjadi laki – laki, dan laki – laki menjadi wanita? Haruskah&#8230;? ah, terlampau banyak tanya yang mesti kita pikirkan. [naila]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Gratis Bukan Solusi</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/pendidikan-gratis-bukan-solusi/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/pendidikan-gratis-bukan-solusi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 07:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Main Article]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan di Indonesia menjadikan bangsa lain yang lebih maju dalam bidang pendidikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan bangsa. Sehingga seringkali kita melupakan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan di Indonesia menjadikan bangsa lain yang lebih maju dalam bidang pendidikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan bangsa. Sehingga seringkali kita melupakan fungsi dan tujuan <a href="http://smartcampz.blogspot.com/">pendidikan nasional</a> yang tercantum dalam undang-undang, yaitu :</p>
<p>Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang <span class="fullpost">bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman <span id="more-59"></span>dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU RI, No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3).</span></p>
<p>Kalau pendidikan kita terfokus kepada upaya membentuk manusia seperti yang tercantum dalam undang-undang dan mengesampingkan persaingan dengan bangsa lain, itu akan lebih baik. Karena secara umum pendidikan nasional bertujuan untuk membentuk manusia yang cerdas, bermoral dan bertanggungjawab. Sedangkan pendidikan yang sedang dijalankan oleh bangsa ini adalah pendidikan yang bertujuan untuk menghindarkan bangsa ini dari ketertinggalan dan mengejar Negara lain yang lebih maju dalam bidang pendidikan.</p>
<p>Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut yaitu dibuat sebuah peraturan tentang nilai standar kelulusan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Dari peraturan inilah kita bisa menyimpulkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang sangat dikesampingkan. Karena dalam peraturan tersebut yang menjadi penentu kelulusan seseorang dalam pendidikan adalah nilai yang didapat oleh siswa tanpa menilai moral dan perilaku siswa sehari-hari.</p>
<p>Disampin itu, dengan adanya program wijib belajar sembilan tahun dan ditambah dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bertujuan untuk meringankan biaya sekolah siswa, kelihatannya akan sangat membantu mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia. Namun pada kenyataannya dengan ditanggungnya biaya pendidikan bagi para siswa tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama oleh pemerintah, justru kualitas pendidikan bangsa semakin rendah.</p>
<p>Program bantuan ini akan sangat tepat bilamana hanya diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu dan mereka yang membutuhkan terhadap bantuan tersebut. Tetapi karena diberikan kepada semua kalangan, ini menjadi hal yang negative karena beberapa kalangan bantuan ini hanya akan mengurangi motivasi dalam pendidikan, baik orang tua yang merasa dengan bantuan tersebut tidak ada beban biaya besar yang harus dikeluarkan untuk bersekolah sehingga tuntutan terhadap anak merekapun ikut berkurang maupun dari siswa itu sendiri karena kurangnya tuntutan terutama dari orang tua.</p>
<p>Karena itulah sekolah sekarang ini layaknya sebuah budaya, bahkan sebagian masyarakat ada yang menganggap sekolah hanyalah sebuah rutinitas semata bukan sarana untuk mengembangkan potensi diri dan memperluas pengetahuan. Inilah yang menjadi salah satu penyebab pendidikan di Indonesia sangat sulit untuk maju dan bisa bersaing dengan Negara-negara lain yang lebih maju dalam bidang pendidikan. Wallahu a’lam……</p>
<p>PENDIDIKAN GRATIS BUKAN SOLUSI<br />
oleh  TauFik I</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/pendidikan-gratis-bukan-solusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Bukanlah Mata Pencaharian</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/guru-bukanlah-mata-pencaharian/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/guru-bukanlah-mata-pencaharian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 07:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Main Article]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kemiskinan masih merupakan salah satu faktor penyebab terpuruknya pendidikan di Indonesia. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana kemiskinan berpengaruh terhadap ketidakmampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya sehingga banyak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemiskinan masih merupakan salah satu faktor penyebab terpuruknya pendidikan di Indonesia. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana kemiskinan berpengaruh terhadap ketidakmampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya sehingga banyak anak usia sekolah yang putus sekolah, sekarang kemiskinan justru berpengaruh terhadap kualitas para guru sebagai pendidik.</p>
<p>Dengan beberapa programnya, seperti BOS, pemerintah <span class="fullpost">bisa dikatakan berhasil dalam upaya mengatasi ketidakmampuan orang tua untuk menyekolahkan anak mereka. Tapi untuk masalah peningkatan kualitas guru, program yang dilakukan pemerintah rasanya tidak bisa dikatakan berhasil atau bahkan bisa dikatakan gagal.</p>
<p>Adanya penghargaan pemerintah terhadap beberapa guru yang dianggap teladan, memperlihatkan kurangnya kualitas para guru yang ada di Indonesia . Karena untuk memperoleh predikat sebagai guru teladan harus memenuhi criteria-kriteria yang telah ditentukan oleh pemerintah dan tidak mungkin ditunjuk langsung. Dan dari sekian banyak guru yang ada di Indonesia hanya beberapa orang guru saja yang memenuhi criteria tersebut, padahal idealnya semua guru bisa memenuhi criteria tersebut bila mutu pendidikan di Negara kita ingin lebih maju.</p>
<p>Dalam pendidikan sekarang, profesi guru mengalami alih fungsi, yang seharusnya guru bertugas mendidik dan mengembangkan fotensi yang dimiliki anak supaya menjadi lebih baik, justru guru itu malah dianggap sebagai mata pencaharian. Sehingga begitu banyak orang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi seorang guru. Ini diperkuat dengan semakin dimanjakannya para guru dengan berbagai program pemerintah untuk para guru tanpa meninjau kemampuan dan keberhasilan para guru dalam mengajar.</p>
<p>Lebih ironisnya lagi, bagi guru terutama yang sudah menjadi pegawai negeri meskipun satu hari, dua hari atau bahkan sebulan penuh tidak melaksanakan tugasnya, mereka tetap mendapatkan gaji dan bahkan tidak pernah ada potongan gaji bagi mereka yang tidak menjalankan tugasnya tersebut. Hal ini manjadikan berkurangnya rasa tanggung jawa dalam diri para guru, sehingga ada guru yang merasa telah menjalankan tugasnya dengan hanya memberikan tugas kepada para siswa. Dan lebih parahnya lagi banyak guru yang meninggalkan tugas mengajar mereka hanya untuk malaksanakan kepentingan mereka sendiri.</p>
<p>Tidak adanya rasa tanggung jawab dalam diri guru dengan meninggalkan tugas dan kewajiban mereka sebagai guru, sangat berpengaruh terhadap siswa. Maka jangan heran ketika melihat banyak pelajar yang melanggar norma dan tidak bermoral, karena gurunya sendiri yang seharusnya menjadi teladan bagi para siswa, secara tidak langsung telah mencontohkan kepada mereka untuk berbuat seperti itu.</p>
<p>Bagi para guru di Indonesia mari kita bersama mengkaji dan memahami kembali tugas dan kewajiban kita sebagai guru, apakah sudah terlaksa atau justru yang kita lakukan selama ini hanya sebagia kecil saja dari tugas dan kewajiban kita. Mari kita kaji dan fahami kembali fungsi dan tujuan pendidikan, apakah pendidikan yang kita jalankan sudah sesuai dengan fungsinya? dan apakah tujuan pendidikan sudah dapat kita capai? Kita sebagai guru jangan sampai menganggap profesi kita sebagai mata pencaharian semata, sehingga kita hanya menunggu pergantian bulan saja untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan kita sebagai guru jangan sampai hanya menjadi bomerang bagi pendidikan di negeri ini. </p>
<p>Wallahu a’lam……</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/guru-bukanlah-mata-pencaharian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Partai Islam : Antara Kepentingan Islam dan Kepentingan Pribadi</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/partai-islam-antara-kepentingan-islam-dan-kepentingan-pribadi/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/partai-islam-antara-kepentingan-islam-dan-kepentingan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 07:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Main Article]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Reformasi pada tahun 1998 yang dibarengi dengan runtuhnya pemerintahan Orde Baru, menyebabkan terjadi perubahan besar-besaran di Indonesia. Masyarakat seakan terbebas dari cengkraman penguasa Orde Baru yang mengekang mereka. “siga kuda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Reformasi pada tahun 1998 yang dibarengi dengan runtuhnya pemerintahan Orde Baru, menyebabkan terjadi perubahan besar-besaran di Indonesia. Masyarakat seakan terbebas dari cengkraman penguasa Orde Baru yang mengekang mereka. “siga kuda lepas tina gedogan”, pribahasa inilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat pada waktu itu.<span class="fullpost"> </span></p>
<p>Runtuhnya pemerintahan Orde Baru juga berpengaruh terhadap system pemilu. Hal itu sangat nampak dari jumlah partai peserta pemilu, yang pada masa Orde Baru pemilu hanya diikuti beberapa partai saja, setelah runtuhnya pemerintahan Orde Baru jumlah partai peserta pemilu semakin banyak. Keadaan tersebut dimanfaatkan pula oleh para tokoh Islam di Indonesia untuk mendirikan partai-partai yang berideologikan Islam. Tujuan utama mereka mendirikan partai tersebut tiada lain untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan Islam (katanya). Hingga banyak partai baru yang berideologi Islam ikut serta dalam pemilu.</p>
<p>Entah mereka sadari atau tidak, penomena ini justru akan lebih mempersulit perjuangan mereka, karena kekuatan umat Islam akan terpetak-petak dan akan sulit disatukan. Hal ini telah terbukti pada pemilu-pemilu, baik pemilihan walikota, bupati dan gubernur, partai-partai Islam ini bukannya bersatu (berkoalisi) untuk mengusung pemimpin yang sama, justru mereka malah bersaing dan berkoalisi dengan partai-partai yang lain (tidak berideologikan Islam) meskipun dibeberapa daerah ada juga partai-partai Islam yang berkoalisi. Yang lebih ironisnya lagi, dalam salah satu acara televisi swasta yang memperdebatkan antara dua partai Islam yang cukup ternama dan diwakili oleh tokoh-tokoh partai tersebut. Ada sebuah kejadian yang sangat mengherankan sekaligus menyedihkan, yaitu ketika salah seorang tokoh dari salah satu partai yang berdebat tersebut ditanya tentang kenapa kedua partai tersebut tidak bersatu saja padahal keduanya sama-sama ingin memperjuangkan kepentingan Islam. Dengan santai orang itu menjawab silahkan saja kalau partai bapak mau bergabung dengan partai kami. Sebuah jawaban yang ‘lucu’ dan tidak layak dikatakan oleh seseorang yang menjadi tokoh sebuah partai yang mengaku berideologi Islam. Maka dari jawaban tersebut akan muncul sebuah pertanyaan “Haruskah kita menunggu orang lain bergabung dengan kita untuk menghimpun kekuatan yang besar dan melaksanakan perjuangan bersama-sama?“ Inilah pertanyaan yang harus mereka jawab.</p>
<p>Sebenarnya kalaulah mereka benar-benar ingin memperjuangkan kepentingan Islam melalui partai, kenapa harus berdiri banyak partai Islam? padahal hal itu sudah jelas hanya akan mempersulit perjuangan mereka. Kita sebagai umat Islam perlu mempertanyakan kembali kepada partai-partai Islam tersebut, apakah mereka benar-benar ingin memperjuangkan kepentingan Islam, atau mungkin mereka hanya ingin memperjuangkan kepentingan mereka dengan mengatasnamakan Islam, karena Islam merupakan agama mayoritas bagi penduduk Indonesia sehingga akan lebih mempermudah tercapainya tujuan mereka.</p>
<p>Hal ini menuntut kita sebagai umat Islam yang sebentar lagi akan memilih orang yang akan mewakili dan sekaligus menjadi pemimpin kita agar lebih teliti dan cerdas dalam menentukan pilihan kita. Wallahu a’lam……</p>
<p>Best Inbox-Created by: Ihsan H</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/partai-islam-antara-kepentingan-islam-dan-kepentingan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Aku Ingin Berbeda</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/karena-aku-ingin-berbeda/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/karena-aku-ingin-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 06:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[The contemplated]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Iman… kata itu yang paling tepat untuk kita jejalkan dalam pikiran kita, untuk kita tancapkan kuat-kuat dalam sanubari kita ketika ada instrumen dan statement dari seorang Muhammad Rosulullah saw demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Iman… kata itu yang paling tepat untuk kita jejalkan dalam pikiran kita, untuk kita tancapkan kuat-kuat dalam sanubari kita ketika ada instrumen dan statement dari seorang Muhammad Rosulullah saw demi menjaga akidah dan kesucian Dienul Islam. Iman yang diikuti “Sami’ na wa atho’na”… keimanan yang diikuti ilmu dan amal. Termasuk ketika menjaga kemurnian aqidah Islam supaya tidak terkontaminasi oleh Millah (gaya hidup) ahli kitab; Yahudi dan Nashrani yang membuat kusam rona wajah dan wijhah Islam. Seperti perayaan <span class="fullpost">Valentine’s day pada 14 Pebruari.</span></p>
<p>Ketika Rosulullah saw tinggal di Madinah, beliau mendapati orang-orang sedang riang merayakan dua hari yang pada hari tersebut penduduk Madinah bermain berkelakar bersama kerabatnya. Rasul saw bertanya: Hari apakah ini? Mereka menjawab: Ya rasulullah, pada masa Jahiliah kami terbiasa merayakan dua hari ini. Jawab Rosulullah: Sesungguhnya Allah swt telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dan mulia untuk dirayakan yakni Yaumil Adha dan Yaumil Fitri. [H.R. Abu Daud no 1131]</p>
<p>Menurut para ahli hadits, dua hari yang dirayakan penduduk Madinah tersebut adalah:</p>
<p>1. Hari Nairuz. Yaitu hari perayaan awal tahun Syamsiah pada kekasiaran Parsi<br />
2. Hari Mahrojan “Ihtifalul ‘Adzin”. Yaitu hari kebesaran bangsa Arab pada masa Jahiliah.</p>
<p>Hadits diatas menjadi dalil bahwa memperingati hari Nairiuz dan Mahrojan serta hari-hari yang lainnya yang dijadikan hari raya orang-orang kafir terlarang untuk diperingati oleh kaum Muslimin. [‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi daud jilid 6 hal 480]</p>
<p>Dalam hadits yang lain riwayat Abu Daud. Dari Ibnu Umar, Rosul saw bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka orang tersebut termasuk bagian dari kaum yang diserupainya”. Di riwayat lain dari Ibnu Mas’ud, Rasul saw bersabda: “Barang siapa ridha kepada perbuatan suatu kaum maka orang itu termasuk kaum tersebut”.</p>
<p>Orang yang menyerupai amal ibadah atau keagamaan diluar agama Islam, tentulah bukan orang Islam. Orang yang melakukan ibadah tidak menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah maka bukanlah dari Ahli Sunnah wal Jama’ah. Orang yang pergaulannya, pakaiannya, gayanya tidak bercorak Islam, tidak pantas mereka dianggap sebagai orang Islam pada dzahirnya. Islam menuntut kaum Muslimin dapat dikenal sebagai Muslim dengan melihat tanda-tanda dzahirnya. Adapun iman dan batinnya Allah swt lebih mengetahui. Jika Muslimin sendiri tidaka mau menampakkan syi’ar Islam, maka apa arti penyesalan bila kita tenggelam dan lebur dibawah syi’ar lain yang tidak diridhoi Allah swt.</p>
<p>Sobat… jangankan mengikuti, kebetulan sama pun dengan orang-orang kafir Nabi tak sudi. Dengan diplomatis Nabi saw berkata: “Ana uridu an ukhaalifahum…” Aku ingin benar-benar berbeda dengan mereka (orang-orang Yahudi dan nashrani). Tak perlu ini sobat bila kita tidak ikut serta menyemarakkan Valentine’s day. Berbahagialah… karena agama kita, adalah agama kasih sayang yang dihari-harinya penuh kasih dan cinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/karena-aku-ingin-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
