<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Smart Magazine &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://smart.stkip-persis.ac.id/category/lifestyle/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smart.stkip-persis.ac.id</link>
	<description>Majalah Mahasiswa STKIP Persis</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 08:07:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Korekta tekstu Opole</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2012/02/korekta-tekstu-opole/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2012/02/korekta-tekstu-opole/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 23:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rajalt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[korekta opole]]></category>
		<category><![CDATA[korekta tekstów opole]]></category>
		<category><![CDATA[korektor tekstu opole]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/2012/02/korekta-tekstu-opole/</guid>
		<description><![CDATA[Pośród językoznawców na każdym kroku pojawiają się nowatorskie powiedzenia udowadniającego opadającego stanu frazeologicznego Swojaków. Daje się słyszeć, że słowo parszywieje, infantylizuje się i schodzi na psy (nie znieważając tych imponujących [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pośród językoznawców na każdym kroku pojawiają się nowatorskie powiedzenia udowadniającego opadającego stanu frazeologicznego Swojaków. Daje się słyszeć, że słowo parszywieje, infantylizuje się i schodzi na psy (nie znieważając tych imponujących zwierząt). Wynika to z ulotnego czytelnictwa, emigracji oddalającej młodych ludzi od lokalnej literatury fachowej oraz z łączności skrótowej, niewymagającej ciekawej mądrości korektorskiej. Jednakże jeśli chce się być postrzeganym za osobę kulturalną i dowcipną, przystoi troszczyć się o swój język. Powinno się w tym celu korzystać z oferty profesjonalnego <a href="http://www.opole.korekta.edu.pl">korektora tekstów</a>. Piękna polszczyzna to podstawa odpowiedniej autoprezentacji. Zachęcam. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2012/02/korekta-tekstu-opole/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AISH, Sesaat Setelah BIMAK OUTDOOR 2010</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2011/12/aish-sesaat-setelah-bimak-outdoor-2010/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2011/12/aish-sesaat-setelah-bimak-outdoor-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 07:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esti Wafa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Terjatuh aku pada sebuah lubang gelap dan dalam. Pengap kurasa saat bernafas, dan tak ada secercah pun cahaya. Kudengar langkah kaki mendekati lubang, semakin dekat dan semakin cepat, hendak ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Terjatuh aku pada sebuah lubang gelap dan dalam. Pengap kurasa saat bernafas, dan tak ada secercah pun cahaya. Kudengar langkah kaki mendekati lubang, semakin dekat dan semakin cepat, hendak ia lompati lubang, namun ia tak bisa dan terjerembab…bertemu denganku. Pemilik langkah kaki itu, dia…sosok yang kukenal. Dia tampak amat lelah karena telah berlalu cukup kencang nan  jauh tanpa bnerhenti, wajahnya bercucuran keringat, jantungnya berdegup kencang, namun senyumnya amat manis dan mulai menggatikan kepengapan nafasku.</p>
<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Ia tak lontarkan sepatah katapun, tak jua ia menatap lama, hanya saja aku semakin bertanya-tanya dan berujar soal “ kenapa kau?.” Ia hanya duduk termangu menikmati hembusan nafasnya yang semakin normal. Aku tak dapat menahan rasa penasaran, kubertanya “ Aish, kau benar Aish yang dulu kukenal kan?.” Dia hanya tersenyum, aku yakin dia yang selama ini selalu ganggu tidurku, mengusik bunga malamku dan melengkapi setiap imajinasiku.</p>
<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Lama waktu mempertemukan kami, Aish pun mulai bercakap. Ia bercerita tentang perjalanan yang selama ini dia tempuh. Kadang ia tertawa saat celoteh kecil kulontarkan. Kadang ia menangis saat masa lalunya mengganggu obrolan. Aku teriris saat ia menangis, entah kenapa. Di lubang ini aku mulai mengenal lebih jauh sosoknya, ia pun mulai melepaskan beban hati yang selama ini ia pikul. Kepengapanku mulai terganti dengan senyum manisnya. Walau ia tak seputih awan, walau ia tak secemerlang bulan, tapi jejak warnanya yang agak gelap bersinar saat aku memandangnya dan tak jemu aku melihatnya.</p>
<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Suatu waktu ia mengeluh tentang kehidupan padaku. Ia hamper putus asa dan tak ingin hidup lama. Aku hanya dapat menemani dan memberinya petuah amatir. Sekejap mata tertutup, ia mulai bangkit dan menapaki lagi harinya. Kadang aku yang mengeluh tentang kehidupan, aku sempat menangis dfi hadapannya, aku malu namun itulah aku, tak dapat menahan air mata setetespun saat hatiku mulai terganggu dan remuk. Ia tersenyum, tak berani ia menyentuhku dengan tangannya apalagi memelukku dengan perawakannya yang tegap. Ia lontarkan petuah, suatu petuah yang amat menghujam di hatiku dank ala itu aku mulai tersenyum. Kucoba lagi jalani kehidupan yang berliku, karena ia yang semangati aku kala itu.</p>
<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Terjerembab di lubang yang sama dalam jangka waktu yang lumayan lama, saling berbagi cerita, saling memberi semangat dan petuah kebaikan, aku dan Aish di sana. Setahap lagi kami dapat keluar dari lubang ini. Sejam lagi kami dapat benar-benar menghirup udara. Sebentar masa lagi, kami dapat menapaki indahnya alam bersama. Namun tak kuduga, sosok lain mulai mencengkram tanganku. Aku mengenalnya, ia yang selalu buatku nyaman dan tertawa. Ia mulai membawaku pergi dari lubang ini. Hanya aku yang ia bawa, Aish…Aish sendirian. Aku tak berdaya tuk tetap di samping Aish dan menolak sosok itu. Aku hanya dapat mengikuti sosok itu tanpa berpamit pulang pada Aish. Malangnya Aish dan kejamnya aku. Aku pergi bersama sosok itu tanpa melihat Aish. Aish hanya tersenyum, tak berujar Tanya, kata bahkan sekedar huruf.</p>
<p style="font-size: 11px; line-height: 16px; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; text-align: left; margin: 0px;">Lama waktu menjelang, sosok itu mulai menjadi gemintang di hatiku. Gemintang amat menyenangkan walau terkadang torehkan kekesalan. Aku bahagia, aku tertawa namun terkadang aku masih mengenang indahnya Aish dalam imajinasiku. Hingga Aish terluka, aku masih sempat menangis untuknya. Aish mungkin kan hidup dalam imajinasi indah. Walau raganya tak termiliki namun Aish kan selalu indah sebagai sahabatku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2011/12/aish-sesaat-setelah-bimak-outdoor-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Harus Ada GOLPUT?</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/kenapa-harus-ada-golput/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/kenapa-harus-ada-golput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Eh tau ga sih lo? Gw sekrang nyalonin buat jadi caleg! Wah serius lo???? Aku kaget minta ampun ketika dia bilang bakal jadi caleg. Dia temen sekelasku pas SMK and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Eh tau ga sih lo? Gw sekrang nyalonin buat jadi caleg! Wah serius lo???? Aku kaget minta ampun ketika dia bilang bakal jadi caleg. Dia temen sekelasku pas SMK and masih se-nasab. Kami sudah saling mengenal karakter, tabiat sampai silisilah habitat masing-masing yang berujung pada kakek buyut yang sama. (Maklum kita satu marga-siswa). Aku masih ingat dengan jelas our funny story. Dari semenjak kami kenalan di alam baby, sampai sekarang.  Kami sempat berpisah.<span class="fullpost"> </span></p>
<p>Dia skul di Jkt nd aku di Bdg. Makanya manggilnya lo gw –lo gw. Padahalkan lahirnya sama” di Paris…ehm…van Java <img src='http://smart.stkip-persis.ac.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Waktu itu dya nangis gara-gara aku Nyobekin bendera plastiknya yg berwarna pelangi pas sedang asyik”nya dia kibarin. Dasar aku yang usil, langsung kurebut nd kusobek deh,,,dasar FWS wah apaan tuh Face without sin alias WeTeDe. Hik…hik… dya nangis wah da roket-11 meluncur, Tairap!!!!??ah dasar kami waktu itu masih polos. nd sampe skarang masih ke-save di memori gw yang berkapasitas 1 Gb. sebenerenya  kenangan kecil gw tdi ada sangkut pautnya dengan deklarasi dya yang ingin jadi caleg. Apa ya? Hayo mikir….. Yupz, that’s right B-E-N-D-E-R-A.</p>
<p>Eh lo emang punya partai? PArtai apa? Nd bisa-bisanya mereka pilih loe? Tanyaku nyerocos. Aku bner-bner gag habis pikir, adaaa aja partai yang tertarik sma manusia yang hobinya bermain klereng, layang-layang, nd petak umpet ama nak cwe. Upss sorry aku nggak bermaksud menjustifikasi  orang yang dulunya main klereng dan apa saja, ga bisa jadi caleg. Et…Astagfirulloh aku dah su’udzon. Itu kan masa lalu knapa harus dihubungin dengan masa sekarang??? Tapi kala itu hati kecil aku berkata nd seakan membnarkan ke-su’udzonan gw :</p>
<p>Keadaan sekarang adalah hasil jerih payah kerja keras dari masa lalu. OK gw tau dya lulusan universitas ternama, tapi aneh kosong. Mati kutu pas gw cecar dya dengan mortar topic-topik seputar kemanusiaan, pendidikan, gaya hidup dan sampai pada yang terurgen yaitu prinsip. Walah-walah malah sekarang dy nekat mau terjun bebas tanpa pengaman kedalam jurang yang dalam. Atau apakha karena Prof, Dr, Ir, MH, S.Pol, S.Sos, S.Pd, MT, Lc sampai pada Ph.D,-nya ???? But keep khusnudzon okay! Dya tersenyum, menghela nafas nd …..Duar…!!!!!! Dya menguap. aku pikir dya mau ngeluarin dalil andalannya buat nyerang balik mortar ku. Ah payah!</p>
<p>Aku tunggu beberapa detik . aku beri waktu dy untuk memulihkan dirinya setelah terluka menerima mortar-mortaku. Sebelum aku lebih gencarkan seranganku 100%. Kayak perang olmert Vs HAMAS za. He….he…., Sedetik kemudian dya muai bangkit. Nd seprtinya dya mau nyerang nih tapi tenang aku ubah format bertahan dulu dari posisi 3-4-3 menjdi 5-4-1 seperti Persib vs Persikab za nieh. civil war!!, dengan memusatkan perhatian pada jantung pertahanan. Ternyata benar. Alhamdulillah, untungnya dah sedia tameng sbelum perang. Eh sob! Dya panggil ku dengan sobat, coz emang kita sobatan. Gw tau dari dulu lo selalu menang dari gw, smpe-smpe predikat siswa teladan abadi gw lu embat juga. Gw ngiri sama anugrah yang telah lo rasain. Tapi, satu yang lo gag bisa ambil dari gw. Yaitu, kecerdasan untuk mewujudkan apapun yang gw inginkan. Lo terlalu alim untuk sedikit menerobos batas keyakinan lo. Lo kaku.</p>
<p>Makanya lo lihat lo masih tetep kayak yang dulu. Tampang lo, rumah lo and kepribadian lo. Eh, sob. Kalau lo mau idup lo berubah, ubah cara berfikir lo yang tradisional ke modern!yang agak condong ke liberty.   Lo and lo… Stop!!!. Baju perangku telah berlubang, dan sedikit berdarah. Wuih, cek…cek… hebat btul serangan bom Molotov-nya namun masih belum bisa memukul mundur semangatku untuk nyelametin sobat aku dari api neraka yang menggangga.  Wah penyakitnya udah kronis nih, penyebabnya virus western.  Mungkin dya gag pasang anti-vir kalee! Emangnya kmputer pake anti virus? Usut punya usut,setelah bergeriliya lumayan lama. Eh ternyata doi gag punya bendera. Jadi apa bendera loe?  Bendera gw masih yang dulu pernah lo robek. Pelangi. Yang jika berotasi dengan kecepatan 1000km/s akan terbentuk warna yang akan mengalahkan hitam. Wuih, dya nerangin dari sisi philosofisnya. Namun aku masih blum ngerti apa tho maksudnya?  Ada gelap ada terang, ada hitam ada putih.B*****r mungkin, belang emang lebih asik! Balng, blang, blang…blang……</p>
<p>Aku jadi keingetan pas dulu praktek saat aku skul di kinder garden. Kala itu tentang warna. Yang ternyata warna putih dihasilkan dari berbagai macam warna-warna. Lalu tiba-tiba…..Ting* lampu berdaya 5 Watt dikepalaku menyala. Putih. Ya Partai putih! Tapi,..setahuku ngga ada partai politik yang namanya putih dari semenjak orla, orba dan “ormasi”. Maksudny ref—ormasi&#8211;.<br />
“Eh urutan partai loe keberapa? “<br />
“Nomor ke- 199 juta” jawabnya simple, mantap nd tuing, tuing gubrak!<br />
“Partai gue mewakili perasaan seluruh rakyat Indonesia, GOL-ongan P-ilihan UmmaT.<br />
“nd sekarang genap sudah anggotaku jadi 200 juta”<br />
“Lho kok bisa?”<br />
“Loe pasti ngga akan nolak gabung ma gw kan?”<br />
“maksud loe koalisi?”<br />
^_-      &#8211;dya mengedipkan matanya sebelah&#8211;<br />
Ha…ha…aku baru  ngerti kalau Dya caleg dari partai GOLPUT. Piss.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/05/kenapa-harus-ada-golput/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langit-Langit Kuburan</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/langit-langit-kuburan/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/langit-langit-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 10:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih duduk bersimpuh. Ku ambil segenggam pasir lalu ku taburkan pada wajahnya. Siapa yang tahan menikmati ludah syetan? Siapa yang tahan pula diam, di hujan kata, menodai makna. Memang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih duduk bersimpuh. Ku ambil segenggam pasir lalu ku taburkan pada wajahnya. Siapa yang tahan menikmati ludah syetan? Siapa yang tahan pula diam, di hujan kata, menodai makna. Memang, aku menghadirkannya dalam kabut merah. Tapi, tak disangka ia menusukku dengan pisau yang ia curi dari neraka.</p>
<p>Dia menatap wajahku, dan aku balas menatapnya. Dia memegang leherku, aku pun memegang lehernya.</p>
<p>“Pendusta!!!” Ungkapnya.<br />
“Kau yang pendusta” Aku balas menghujat.<br />
“Kau tak punya Cermin!!!”<br />
“Kau yang tak punya!”</p>
<p>Dia melepaskan leherku, akupun melepaskannya, ah, biarlah, malaikat bertanduk hitam itu, dengan gaya seperti tangan kuasa, suatu saat ia akan mendapat kotoran-kotoran para pendusta. Aku tak mengerti apa yang ia inginkan. Tapi, dia pernah berkata bahwa langit-langit kuburan akan ia singgahi. Kapan? Entahlah, sepertinya dia hanya ingin menenggelamkan ruh kesucianku untuk ia santap. Takutkah aku? Maaf kawan, tak sedikitpun rasa takut menghantuiku. Dan dia pun pernah berkata bahwa ia akan mendapatkan nyawaku walau bagaimanapun caranya. Dasar! Bejana hitam. Wajahmu sama hitamnya.</p>
<p>***</p>
<p>Jam 06.00 pagi, jam 12.00 siang, jam 06.00 sore, jam 12.00 malam. Waktu terus berputar dengan cepat. Seprti angin yang memberikan kesejukan ketika panas. Malam masih dingin, ku tatap langit, ada yang berbeda, mengapa bintang itu tidak ada? Mengapa bulan tak bercahaya? Aku yakin, ini ulah Si manusia Syetan itu. Tak henti-henti ia mengetahui keberadaanku, menelusuri jiwaku dan memotong laskar kehidupanku, belum tahu kau siapa diriku?</p>
<p>Tak lama kemudian dia datang.<br />
“Mau apa kau?” Tanyaku<br />
“Aku hanya ingin berdansa dalam ketidaktahuan. Dan aku akan mengajakmu ketempat yang kau inginkan. Surga. Bagaimana?”<br />
“Entak aku salah dengar atau mulut rombengmu yang salah ucap? Uh… membuatku sakit telinga”<br />
“Terserah kau, tapi aku hanya ingin mengajakmu. Maukah kita ke Surga?”<br />
“Tidak mungkin, tidak mungkin. Aku tidak akan pernah bersama dirimu. Dulu, ketika ku memberikan apa yang kau inginkan, kau tak memberi apa yang aku inginkan. Dulu, ketika kau ragu tentang sesuatu yang harusnya kau tak ragu, kau TI-A-DA. Aku tidak pernah perduli dan tak akan ikut dengan mu walaupun kau membelah bulan, bumi dan matahari. Kini mungkin bunga-bunga ditaman balik mengejekmu. Atau bisa jadi malaikat putih memberikan sayapnya supaya kamu pergi. Sudikah kamu untuk itu? Tunjukan padaku, katanya kau ingin singgah dilangit-langit kuburan!”</p>
<p>Dia terdiam. Kelihatannya dia bingung. Salah dia sendiri, mengapa dia melemparkan kejujuran. Orang yang tak pernah jujur suatu saat akan terlempar, merasa benar padahan salah. Sudah tahu salah masih saja membenarkan ketidak benaran.</p>
<p>Akhirnya, dia pulang dan kulihat dia berjalan dengan penuh haru. Aku tidak salah, ku peringatkan dia supaya tidak hanya bisa menjadi kelinci. Selalu ku tegur dia bahwa takdirnya hanyalah sebagai monyet kota yang menari. Aku lelah, aku mau pulang.</p>
<p>***</p>
<p>Baru saja aku bangun tidur, sepucuk surat sudah ada untukku yang sudah menanti aku untuk segera membukanya. Dan ku buka amplop berwarna merah itu. Namun, mengapa warnanya merah? Aku tidak suka warna itu. Apalagi pada zaman sekarang, satu negara dengan negara lain saling mengibarkan kain warna merah. Hingga timbul banyak caira-cairan merah pada jiwa manusia. Kasihan.</p>
<p>Aku baca isi sura itu, entah dari siapa pengirimnya. Isi sura tersebut…</p>
<p>“Kepada sahabatku, dimanapun engkau berada…<br />
Salam perjuangan!!<br />
Di sini, sungguh aku terlantar. Di pelupuk ke galauan, dan tak ada siapa-siapa di sini. Aku berkata, memahami makna dan yang terpenting bagiku Cinta. Aku disini tersiksa dan ku harap kau disini menjemputku. Di langit-langit kuburan. Si manusia Syetan itu yang menghancurkanku! Ku tunggu kau di sini, agar kau dan aku tidak mati.<br />
Manusia terbelenggu”<br />
Memang, dia ingin benar-benar membunuh aku yang tak berdosa. Baik, aku akan pergi dan aku ingin tahu seberapa besar keberaniannya menghadapiku.</p>
<p>Panas matahari terus menyengat, kepala seperti diguyur lahar, tapi aku masih berpijak pada tujuanku, langit-langit kuburan. Aku melihat ada seseorang didepan dan aku bertanya<br />
“Apakah kamu tahu apa yang aku cari?” tanyaku.<br />
“Tidak!” Jawabnya dengan ketus.<br />
“Bodoh, dasar bodoh. Seharusnya aku tidak bertanya kepadamu”<br />
“Mengapa kau bertanya padaku”<br />
“Semoga saja kamu tahu”<br />
Aku terus melanjutkan perjalananku, tak ada tang bisa kutanya lagi, kecuali… kecuali batu-batu api dan makhluk penjemput maut. Jika aku mendekatinya, matilah aku, persetan dengan dia, akan ku cuba bertanya pada makhluk itu.<br />
“Hai kamu. Bisakah kau menunjukan apa yang aku cari?”<br />
“Bisa. Bukankah langit-langit kuburan?”<br />
“Dari mana kamu tahu?”<br />
“Aku pemiliknya”<br />
“Antarkan aku kesana”<br />
“Tapi syaratnya kau harus mati”<br />
“Cuah! Percuma aku berjalan sejauh ini menempuh hidup. Tak ingin aku mati, jikalau pada akhirnya harus mati, tak ada jalankah selain itu?”<br />
“Ada, kamu harus kembali”<br />
“Bedebah. Kau sama saja dengan orang yang aku hindari. Tukang jagal!”<br />
Sempat aku bingung, bila aku kembali aku mati. Dan bila aku diam disini aku juga mati. Baiklah, aku disini. Aku akan diam disini menandakan bahwa aku tidak diam.<br />
Aku terhentak. Apa yang terjadi? Apakah aku tadi bermimpi? Atau hanya berhalusinasi? Hmm… ternyata sudah malam, saatnya aku tidur. Mungkin tadi hanya lamunan. Aku masuk ke dalam dan langsung tidur.<br />
*The end*</p>
<p><span style="font-style: italic;">Cerpen: Langit-Langit Kuburan</span><br />
<span style="font-style: italic;">Oleh: M.F.R</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/langit-langit-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Pacaran Juga</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/03/akhirnya-pacaran-juga/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/03/akhirnya-pacaran-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 10:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Adi adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Ia mahasiswa yang cukup cedas, rajin, sederhana (tapi keren juga lho!!!), dan satu lagi yang paling penting ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adi adalah seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Ia mahasiswa yang cukup cedas, rajin, sederhana (tapi keren juga lho!!!), dan satu lagi yang paling penting ia itu mahasiswa paling ganteng di kampusnya, bahkan banyak teman-temannya, terutama perempuan, mengatakan bahwa ia adalah laki-laki yang paling sempurna di dunia ini.</p>
<p>Satu-satunya kelemahan yang tak bisa ia hilangkan dari dirinya ialah sifat pemalunya, terutama pada perempuan. Bahkan saking pemalunya, sampai kuliah pun ia belum pernah merasakan indahnya pacaran, jangankan pacaran untuk mengungkapkan cintanya saja ia tidak berani, padahal ada beberapa perempuan yang ia sukai.</p>
<p>Ada seorang perempuan yang ia taksir di kampusnya, namanya Asmi. Ia lumayan cantik dan juga cerdas. Tapi berbeda dengan Adi, Asmi orangnya cenderung cuek. Bahkan Asmi sering meminjam handphone Adi hanya sekedar untuk berfoto-foto dengan kamera Handponnya Adi. Foto-foto tersebut tidak Adi delete dari handphonnya, dan ada juga beberapa foto yang ia cetak untuk koleksinya.</p>
<p>Sebenarnya Asmi juga memiliki rasa kepada Adi, tapi yang namanya perempuan mana mau mengatakan perasaannya kepada laki-laki (gengsi donks!!!!). Seringkali ketika Asmi meminjam handphone Adi ia membuka file handphone Adi dan mengirimkan foto-foto Adi ke handphonnya, tapi itu tanpa sepengetahuan Adi.</p>
<p>Di kampus, keduanya tak memperlihatkan tanda-tanda saling menyukai, Adi bersikap kepada Asmi seperti ia bersikap kepada teman-temannya yang lain, begitu juga dengan Asmi. Tapi, yang namanya teman, komunikasi selalu terjalin, begitu juga dengan mereka berdua. Mereka kadang suka SMSan dan bahkan kalau ada hal yang kiranya penting, mereka suka saling menelpon.</p>
<p>Malam itu cuaca sangat cerah, Adi duduk di teras atas rumahnya sambil memandangi bintang-bintang di langit. Ia duduk termenung sambil memikirkan perempuan pujaannya itu, dan sesekali ia tertawa sendiri layaknya orang gila. Saking asiknya memikirkan Asmi, ketika handphonnya berdering ia merasa sangat kesal, apalagi ketika ia tahu bahwa itu hanya miscall. Ia pun menggerutu sambil melihat handphonnya untuk mengetahui siapa yang tadi miscall.</p>
<p>Adi yang tadinya kesal, ketika mengetahui bahwa yang miscall tadi adalah Asmi, kekesalannya itu berbalik menjadi senyuman bahagia. Tanpa fikir panjang ia langsung balik menelpon Asmi.</p>
<p>“hallooooo!!!!” suara Asmi terdengar sangat merdu di telinga Adi.<br />
“Ada apa Mi?” Tanya Adi sambil basa basi.<br />
“ah… ga ada apa-apa ko, cuma iseng doang! Kenapa, ganggu ya?”Asmi menjawab dengan santai dan melanjutkannya dengan pertanyaan.<br />
“oh…kirain ada apa, ngga ganggu ko! Aku kali yang ganggu kamu?”Adi bertanya sambil menggoda Asmi.<br />
“ah… engga!!!” jawab Asmi sigkat.<br />
“ah jangan suka boong, kamu pasti lagi di telpon ma pacar kamu!” Adi kembali menggoda Asmi.<br />
“dih… siapa lagi yang punya pacar!”<br />
“ah kamu kaya yang ga punya hati aja!”lagi-lagi Adi menggoda Asmi.<br />
“maksud lho?” Asmi kurang memahami maksud Adi.<br />
“maksudnya kalo kamu belum punya pacar, kamu seperti orang yang ga punya hati!”<br />
“emang gitu kenyataannya!”</p>
<p>Sejenak Adi terdiam dan berfikir. “inilah kesempatanku untuk mengatakan cinta kepada Asmi” itulah yang ada di benak Adi saat itu.</p>
<p>Dengan penuh rasa malu ia berkata :“kalo bener gitu, ijinkanlah ku berikan hatiku padamu! sudikah kamu menerima hatiku?”</p>
<p>Asmi terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan Adi dan mencoba memahami maksud dari kata-kata yang diucapkan Adi tadi.<br />
Dengan nada bercanda Asmi balik bertanya kepada Adi :“kalo gitu kamu ga punya hati dong?”<br />
“oiya yah!!!!” jawab Adi singkat.</p>
<p>Kemudian Asmi berkata seperti apa yang dikatakan Adi tadi. “kalo gitu ijinkan juga ku berikan hatiku padamu dan terimalah hatiku untukmu!!!!!”</p>
<p>Serentak Adi bertanya dengan nada sangat bahagia “jadi….kita jadian dong?”<br />
“ya…. Iyalah!!!!!” jawab Asmi singkat<br />
“ha…ha…ha….ha…..” keduanya tertawa bahagia.</p>
<p>“akhirnya pacaran juga” mungkin itulah kata yang paling tepat untuk diucapkan Adi ketika cintanya diterima oleh Asmi.</p>
<p>Cerpen: AKHIRNYA PACARAN JUGA<br />
Oleh: Penjarah majalahai………!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/03/akhirnya-pacaran-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

