<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Smart Magazine &#187; Kampus</title>
	<atom:link href="http://smart.stkip-persis.ac.id/category/kampus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smart.stkip-persis.ac.id</link>
	<description>Majalah Mahasiswa STKIP Persis</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 11:12:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Presma BEM STKIP Persis 2009-2010</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 11:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Kami segenal crew Smart Magazine STKIP Persis mengucapkan selamat kepada Meiki Muttaqin atas terpilihnya sebagai Presma BEM STKIP Persis angkatan 2009-2010.
Semoga dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Amien!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami segenal crew Smart Magazine STKIP Persis mengucapkan selamat kepada Meiki Muttaqin atas terpilihnya sebagai Presma BEM STKIP Persis angkatan 2009-2010.</p>
<p>Semoga dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Amien!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/11/presma-bem-stkip-persis-2009-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Cup of Tea</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 05:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa jurusan bahasa dan sejarah terjangkit penyakit Gapkom, betulkah? Saya yakin dan Anda pun pasti sependapat, baik komunikasi verbal maupun non verbal adalah &#8220;a cup of tea&#8221;nya mahasiswa yang bergelut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mahasiswa jurusan bahasa dan sejarah terjangkit penyakit Gapkom, betulkah? Saya yakin dan Anda pun pasti sependapat, baik komunikasi verbal maupun non verbal adalah &#8220;a cup of tea&#8221;nya mahasiswa yang bergelut dengan bahasa dan sejarah.</p>
<p>Secangkir teh, dingin ataupun hangat, manis ataupun tidak yang penting masih dalam porsi yang wajar, pasti menimbulkan kenikmatan yang tiada tara.</p>
<p>&#8220;A cup of tea&#8221; kiranya sudah menjadi sebuah <span id="more-114"></span>istilah dan kita pasti sudah mengerti maksud dari ungkapan tersebut.</p>
<p>Adalah dia yang sudah memutuska untuk mendalami serta menyelami dunia bahasa dan sejarah yang akan menerima cap seorang intelektual yang pandai berkomunikasi. Dan itu merupakan sebuah penghargaan yang secara otomatis orang berikan terkait dengan bidang ilmu yang tengah digeluti.</p>
<p>Tak heran jika dua bidang ilmu ini berada di deretan teratas dalam ilmu sosial. Maka dengan predikat tersebut sudah sewajarnya kita persiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan diberikan masyarakat. Jangan sampai mereka menganggap kita sebagai mahasiswa gagap</p>
<p>Nah seperti itulah <a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> readers kira-kira topik yang akan kami ulas pada edisi kali ini. Kami harap sedikit banyak dapat memberikan &#8220;Pencerahan&#8221; bagi kita semua.</p>
<p><a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> edisi cetak benomor VIII/Syawal 1430/Oktober 2009 dapat Anda dapatkan di sekretariat <a href="http://smart.stkip-persis.ac.id/">Smart</a> di kampus STKIP.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/a-cup-of-tea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Successful People</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/successful-people/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/successful-people/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 03:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Barudak Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[There is not people who do not want to be successfull people. Certainly, really really no one. Because, every body want to be successful people. We, as a Muslim, has [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>There is not people who do not want to be successfull people. Certainly, really really no one. Because, every body want to be successful people. We, as a Muslim, has a real model man that can be imitated his “ways to be successful. He is our prophet, Muhammad. He is a real successful people. He is success as a man, family’s leader, and as a goverment’s leader. Not only Muslim confess his successfull  but also non Muslim. There are three “ways” which Prophet Muhammad has to be successful people.  They are knowledge, mobility, and large public relation.</p>
<p>The first thing that prophet Muhammad has of his successfull is his loving of knowledge. Though, he can not read and write, he always keep loving <span id="more-111"></span>knowledge. Even, oneday someone ask him, ‘how to reach happyness of this life and  ‘next real life’?” then he answered that if we want to reach happyness of this life, next real life, and both of those are by having knowledge. So, having knowledge is a must  for us who want to be a successful people.</p>
<p>The second thing that prophet Muhammad has of his successful is having high mobility. If we attent to Muhammad’s life since he child, we will know that this man has a high mobility in his life. In his twelve years old, he was be trader. He traded to Syria with his uncle. He did not depended on other people to guarrante his life. He always kept fighting. In his twenty five years old, he was be adult man who was ready financially and mentally. Actually, his life was for struggle. He did something, and he has never been silent. So, mobility is also a must to have to be success.</p>
<p>The third is large public relation. We can not deny that prophet Muhammad has a great influence. Actually, his influence is related to his abilty to take relationship to other people. He respect and love other. He always perspected to people he met that they was important, he did not underestimate people. Every body was so important. So, people loved him, and they was enjoy to met him. And actually, it made his relation has been large.</p>
<p>Those all are three reason why prophet Muhammad be a successful people. knowledge, mobility, and public relation. Yup, The great things that can we imitate to be successfull people.</p>
<p>By:Nella Nurlaela (EED of STKIP, smt 5)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/successful-people/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dukung Kontes SEO Positif Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/dukung-kontes-seo-positif-kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/dukung-kontes-seo-positif-kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini merupakan dukungan kontes SEO  Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang yang merupakan kontes SEO positif untuk mengangkat industri pariwisata daerah di Indonesia. Semoga daerah lain pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini merupakan dukungan kontes SEO  <strong><a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a></strong> yang merupakan kontes SEO positif untuk mengangkat industri pariwisata daerah di Indonesia. Semoga daerah lain pun memiliki anak bangsa yang concern terhadap perkembangan industri pariwisatanya dengan cara yang mungkin tidak sama dengan yang dilakukan komunitas anak bangsa kabupaten Pandeglang Banten.</p>
<p>Selain konte SEO bertema objek wisata ini banyak juga kontes blog yang beraroma SEO yang notabene membutuhkan keterampilan di bidang optimasi mesin pencari khususnya mesin pencari Google yang banyak dijadikan acuan untuk penilaian sebuah kontes SEO. SEO sendiri kepanjangan dari <span id="more-108"></span>Search Engine Optimization atau optimasi mesin pencari, dimana setiap peserta harus berada di halaman pertama atau 10 besar untuk memenangkan kontes tersebut.</p>
<p>Nah, kontes SEO <strong><a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a></strong> salah satu diantaranya. Kontes tersebut tidak hanya diikuti oleh para master dibidang internet marketing namun juga blogger-blogger pendatang baru pun tidak mau kalah menunjukkan kebolehannya dalam optimasi mesin pencari dengan kata lain berlomba untuk mengalahkan Google atau berlomba untuk &#8220;dicintai&#8221; Google.</p>
<p>Smart STKIP sangat mendukung kontes positif ini, apalagi tema yang diperlombakan pun terbilang sangat positif untuk mengangkat industri pariwisata nasional khususnya daerah. Semoga semakin bertaburan kontes-kontes serupa dengan tetap mengusung nilai-nilai positif untuk kemajuan nasional.</p>
<p>Mari bersama kita dukung dan mari bersama kita <strong><a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/dukung-kontes-seo-positif-kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Terlupakan</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 06:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Main Article]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kebanggaan tersendiri pada zaman yang dianggap modern ini jika apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan orang-orang di barat sana dan ketika tidak sesuai dianggap lah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kebanggaan tersendiri pada zaman yang dianggap modern ini jika apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan orang-orang di barat sana dan ketika tidak sesuai dianggap lah tidak modern dan ketinggalan zaman. Hari ini bukan sedikit sesuatu yang datang dari barat dan seolah-olah hal tersebut modern tanpa tahu maksud dan kenapa hal tersebut ditirunya.</p>
<p>Secara teknologi kita akui bahwa barat lebih maju dan berkembang dibandingkan dengan Negara kita dan hal itulah yang seharusnya kita tiru untuk kemajuan bangsa (berfikir modern) dengan tidak melupakan identitas kita sebagai orang timur, namun yang banyak ditiru oleh anak bangsa hari ini bukan dari segi kemajuan teknologinya tetapi lebih kepada gaya hidup (Life style) mulai dari cara berpakaian yang sudah<span id="more-104"></span> hampir melupakan ketimurannya bahkan melupakan aturan agama yang telah dianutnya, pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang dulu benar-benar sangat sacral tapi hari ini semuanya telah berubah dan menjadi sesuatu yang lumrah bahkan dianggap ketinggalan zaman jika tidak berfikir dan bertindak seperti mereka.</p>
<p>Sesuatu yang datang dari barat tidak harus kita tolak secara mentah-mentah namun kita lah yang harus punya filter untuk menyaring kembali mana yang memang termasuk modernisasi yaitu untuk kemajuan bangsa dan mana yang termasuk westernisasi yang lebih condong kebarat dan melupakan identitas ketimuran kita. Karena jika kita kaji ternyata barat mempunyai visi yang sangat keji terhadap bangsa kita khususnya umat Islam namun mereka mampu membungkus dengan baik visi keji mereka sehingga sulit untuk diketahui bahkan banyak ulama yang ikut serta tehadap visi mereka entah ketidak tahuan mereka ataukah mempunyai visi yang sama seperti mereka.</p>
<p>Lalu apa sebenarnya yang harus kita lakukan dengan keadaan yang tidak bisa kita halangi kedatangannya? diantara modernisasi dan westernisasi ternyata masih ada Islamisasi yang kadang hal itu dilupakan tetapi selalu menjadi solusi dan benteng. Dalam menyikapi perkembangan zaman seperti sekarang ini Islam adalah satu-satunya yang mampu menjadi solusi untuk keluar dari gejala westernisasi paling tidak mencegah hal tersebut sehingga umat tidak terlalu tergila-gila dengan sesuatu yang datang dari barat karena Islam pun ternyata lebih modern, tinggal kita sejauh mana kita mampu menterjemahkan Islam dalam sosialitas sehari-hari dan membentengi diri dari sesuatu yang ternyata bukan suatu ke moderenan tetapi lebih ke westernisasi (kebarat-baratan).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masyarakat kitab</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 06:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Main Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hal aneh ketika dalam kajian ataupun perkumpulan-pekumpulan umat islam yang menjadi objek perbincangan adalah islam itu sendiri beserta sendi-sendi yang ada didalamnya dari mulai aqidah sampai mauamalah bahkan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan hal aneh ketika dalam kajian ataupun perkumpulan-pekumpulan umat islam yang menjadi objek perbincangan adalah islam itu sendiri beserta sendi-sendi yang ada didalamnya dari mulai aqidah sampai mauamalah bahkan bisa dikatakan begitu sempurnanya Islam sampai-sampai seolah tidak ada celah untuk timbulnya kritik dari kubu umat islam itu, padahal orang mengatakan bahwa &#8220;kritik adalah sesuatu yang akan membangun&#8221; namun hal itu tidak berlaku untuk islam dan ideologinya.</p>
<p>Hal tersebut tidak bisa disalahkan karena memang ideology itu dibangun tidak sembarangan tetapi berdasarkan kekuatan dalil yang langsung dari pencipta Islam itu, seperti  dalam surat <span id="more-102"></span>Ali Imran ayat 3 “Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku ridho Islam menjadi agama kalian”.</p>
<p>Berdasarkan ayat itulah seolah kritik tertutup untuk Islam, dan tidak bisa dipungkiri bahwa diri kita pun merasakan hal itu. Islam adalah agama social dengan kata lain hadirnya Islam adalah untuk kemaslahatan umat mulai dari awal turunnya sampai nanti hari kiamat.</p>
<p>Hadirnya Rasul adalah untuk menterjemahkan (mensosialkan) maksud-maksud Allah terhadap umatnya dan dengan bimbingan Allah serta kesabaran diri Rasul akhirnya Islam pada saat itu berhasil disosialkan dan dengan hal itu tercipat masyarakat kitab yang hidup berdasarkan aturan-aturan islam.</p>
<p>Rasul begitu sempurna menterjemahkan Islam dalam kehidupan sehari-hari bahkan untuk mempermudah umatnya beliau membantu dengan hadits-hadits yang sampai saat ini masih kita baca dan diperbincangkan. Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa hari ini kesempurnaan Islam hanya menjadi perbincangan dan tidak sedikit orang yang tahu tentang Islam sampai sendi-sendinya tetapi hal itu hanya menjadi perbincangan semata, dan mereka adalah ahli kitab (pengkaji kitab).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/masyarakat-kitab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatian Allah Terhadap Sejarah</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 06:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Allah menciptakan manusia segalanya berdasarkan ketentuan dan aturan dari-Nya.  Jika kita hitung sudah berapa banyak manusia yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini? Mungkin tidak akan pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Allah menciptakan manusia segalanya berdasarkan ketentuan dan aturan dari-Nya.  Jika kita hitung sudah berapa banyak manusia yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini? Mungkin tidak akan pernah terhitung, jangankan dari manusia pertama (Adam) manusia yang masih hidup saja akan sulit sekali untuk di hitung.</p>
<p>Dan dari sekian banyak ciptaan-Nya itu tidak akan pernah ada satu pun yang sama meski ada yang di katagorikan kembar pasti selalu ada bedanya, bukan hanya dari bentuk fisik atau pun tabiat manusia itu yang berbeda bahkan pengalaman hidup manusia pun dari dulu sampai <span id="more-99"></span>sekarang dan mungkin sampai hari akhir pun tidak akan pernah sama dan semua itu karena menandakan bahwa betapa besarnya kekuasaan Allah.</p>
<p>Dari beribu bahkan berjuta manusia yang lebih dahulu Allah ciptakan ada pula berjuta pelajaran yang Allah titipkan dari mereka untuk kita, tinggal kita kembalikan kepada manusia hari ini sejauh manakah manusia itu bisa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk hari ini bahkan untuk masa depan, padahal Allah pun telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melihat sesuatu yang telah berlalu dari mereka, seperti dalam Q.S Al-Hasr ayat 18:</p>
<blockquote><p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.</p></blockquote>
<p>Dengan ayat itu sudah jelas bahwa Allah swt begitu memperhatikan bahkan memperingatkan manusia khususnya orang yang beriman untuk memperhatikan pengalaman dirinya serta pengalaman orang lain untuk di jadikan pedoman dalam melangkah agar bisa menjadi yang lebih baik dari orang-orang terdahulu.</p>
<p>Dalam Al-Quran, Allah pun banyak mengisahkan dan mengupas sejarah orang-orang terdahulu baik yang hidup pada zaman Nabi Muhammad mau pun sebelum beliau.  Dan dengan itu menandakan begitu berharganya sejarah di sisi Allah.</p>
<p>By: History 5th smt</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meluruskan Arti Emansipasi</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:51:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Asma Nadia]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatimah Azzahra]]></category>
		<category><![CDATA[Helvy Tiana Rosa]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Khadijah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah Azzahra, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, adalah deretan nama – nama wanita muslimah yang berprestasi pada zamannya masing – masing. Walaupun begitu, keprestasian mereka tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah Azzahra, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, adalah deretan nama – nama wanita muslimah yang berprestasi pada zamannya masing – masing. Walaupun begitu, keprestasian mereka tak menjadikan mereka lupa akan kodrat mereka sebagai wanita muslimah.</p>
<p>Siti Khadijah dan Siti Aisyah tetap menjadi istri teladan bagi Rasulullah. Fatimah tetap menjadi anak yang berbakti pada ayah dan isteri yang telaten bagi Ali, suaminya. Pun, dengan Helvy dan Asma yang berperan sesuai dengan kewanitaannya. Hal ini berbeda dengan pandangan kebanyakan orang sekarang. Menurut mereka, <span id="more-97"></span>wanita disebut berprestasi jika mereka mampu menyamakan kedudukannya dengan laki – laki. Ya, itulah, yang kemudian kita kenal dengan istilah emansipasi.</p>
<p>Adalah salah jika kita berangapan bahwa Islam menjadi penghambat perkembangan wanita. Justru sebaliknya, jika kita tengok pada masa jahiliyah, wanita hanya dipandang sebelah mata. Wanita hanya dijadikan pemuas nafsu [maaf] seksual. Tidak lebih. Beda halnya ketika Islam datang. Citra wanita menjadi lebih baik. Wanita begitu sangat dihargai. Tak heran, muncullah tokoh – tokoh muslimah berprestasi, seperti sederetan nama diawal tulisan ini.</p>
<p>Secara gender, kedudukan wanita dan laki – laki memang tidak memiliki perbedaan yang sangat jauh. Ketika laki – laki mampu bermain bola, pada dasarnya wanitapun mampu bermain bola. Pun ketika laki – laki mampu bermain tinju, pada dasarnya wanitapun mampu bermain tinju. Yang tidak bisa dilakukan oleh seorang laki – laki dan hanya bisa dilakukan oleh wanita adalah melahirkan dan menyusui. Itu saja perbedaannya. Dan lagi – lagi, itu jika dilihat menurut gender.</p>
<p>Sedangkan, kalau kita lihat dari sisi yang lain selain gender, jelas wanita dan laki – laki sangatlah berbeda. Ini karena makhluk yang berlainan jenis ini mempunyai fungsi yang berbeda. Fungsi wanita tidak akan sama dengan laki – laki. Pun sebaliknya. So, dalam konteks apapun, wanita akan tetap menjadi wanita sesuai fitrahnya. Seharusnya dan sekudunya.</p>
<p>Oleh karena itu, adalah sangat menyedihkan jika hanya karena sebuah kata emansipasi, wanita harus menggadaikan kodratnya. Adalah sangat mengenaskan kalau hanya karena sebuah istilah gender, wanita harus menyalahi fitrahnya. Ah, zaman memang sudah semakin maju dan (mungkin) edan. Namun, haruskah insan terbaik yang hidup di dalamnya turut berperan serta menjadi edan? Haruskah kita, sebagai makhluk paling sempurna yang Allah ciptakan, membuat dunia yang sudah edan ini menjadi semakin edan dengan pola tingkah laku kita yang menyalahi kodrat dan kefitrahan kita? Wanita menjadi laki – laki, dan laki – laki menjadi wanita? Haruskah&#8230;? ah, terlampau banyak tanya yang mesti kita pikirkan. [naila]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/meluruskan-arti-emansipasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontes SEO Bertema Objek Wisata</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/09/kontes-seo-bertema-objek-wisata/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/09/kontes-seo-bertema-objek-wisata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 14:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kontes SEO]]></category>
		<category><![CDATA[Pandeglang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Sejak bulan Agustus 2009 kemarin atau tepatnya tanggal 17 Agutus 2009 bertepatan dengan HUT RI ke-64 hadir meramaikan dunia blogger Indonesia sebuah kontes SEO bertemakan objek wisata dengan kata kunci [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak bulan Agustus 2009 kemarin atau tepatnya tanggal 17 Agutus 2009 bertepatan dengan HUT RI ke-64 hadir meramaikan dunia blogger Indonesia sebuah kontes SEO bertemakan objek wisata dengan kata kunci <a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a>.</p>
<p>Kami dari SMART magazine tentu menilai positif sekali kegiatan kontes bertema wisata tersebut, karena tidak hanya sekedar kontes melainkan mengangkat industri pariwisata tanah air yang cenderung selalu tersisihkan.</p>
<p>Masyarakat kalangan menengah <span id="more-69"></span>ke atas lebih bangga apabila berwisata ke luar negeri padahal di negeri ini sendiri begitu banyak daerah pariwisata yang sangat indah dan tak kalah menarik untuk dikunjungi. Hal ini memang menjadi catatan tersendiri bagi para pelaku bisnis pariwisata terutama pemerintah daerah bagaimana mengupayakan dan menjaga agar sektor pariwisatanya mampu bertahan bahkan lebih meningkat dari tahun ke tahun.</p>
<p>Salah satu faktor (masalah) umum yang kita dapati pada daerah wisata Indonesia adalah mengenai kebersihan. Hampir seluruh daerah wisata Indonesia tidak dapat menjaga kebersihannya dari sampah-sampah yang berserakan, mungkin hal inilah yang banyak menjadi alasan bagi turis lokal untuk tidak berwisata di negerinya sendiri. Hal ini menjadi PR bagi Pemda setempat.</p>
<p>Seperti yang disebutkan di atas kata kunci kontes SEO ini adalah <a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a>, semoga kontes ini memberikan pencerahan dan dapat menjadi acuan bagi pelaku industri pariwisata Indonesia.</p>
<p>Aturan main dan informasi lebih lanjut mengenai kontes SEO ini dapat Anda akses di website CintaPandeglang.com.</p>
<p>Akhir kata kami dari segenap kru Smart mengucapkan selamat mengikuti kontes SEO <a title="Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang" href="http://hakimtea.net/kenali-dan-kunjungi-objek-wisata-di-pandeglang/">Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/09/kontes-seo-bertema-objek-wisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Intelegensi &amp; Adab</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 07:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[“Eh…jeng, saya bangga deh anak saya bentar lagi jadi dokter,
minggu depan mau wisuda hebat ya anak saya..?!”
“Oh gitu jeng….ya lebih hebat anak saya dong jeng, anak saya tuh dapet beasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Eh…jeng, saya bangga deh anak saya bentar lagi jadi dokter,<br />
minggu depan mau wisuda hebat ya anak saya..?!”<br />
“Oh gitu jeng….ya lebih hebat anak saya dong jeng, anak saya tuh dapet beasiswa dari pemerintah buat ngelanjutin S2 di luar negri supaya jadi ekonom hebat …!”<br />
Kontras….disamping ibu-ibu bawel yang lagi ngebanggain anak-anak nya, ada seorang ibu yang Cuma mesem-mesem doank. <span id="more-65"></span>Ibu itu di tanya oleh salah satu dari ketiga ibu yang lagi unjuk kebanggaan .<br />
“anak jeng gimana? dari tadi ko diem terus cerita dong!”<br />
“ah…..anak saya mah bu Cuma tamatan madrasah Aliyah, ga dilanjutin kuliah, jadi muadzin mushola aja saya mah udah seneng bu..” jawabnya agak minder lalu dibalas senyum sinis terkesan ngejek dari si jeng-jeng yang nge-jengkelin itu.</p></blockquote>
<p>Penggalan cerita diatas menggambarkan seperti apa persepsi yang berbeda-beda dari sebagian masyarakat terhadap pendidikan dan hasilnya, dan bagaimana interpretasi sebuah <span class="fullpost">kata ‘hebat’ dan  kesuksesan dalam pendidikan yang berbeda-beda pula di kalangan penduduk negara berkembang ini. Apa kita tertarik pada konsep sukses pendidikan seperti ibu yang mempunyai anak yang bisa adzan dan mampu memakmurkan mushola? atau kita lebih tertarik pada konsep keberhasilan pendidikan seperti ibu yang anaknya mendapat penghargaan dan jaminan dari pemerintah?. Entahlah….. mari kita mengaca diri.</span></p>
<p>Bak seorang anak yang sedang belajar naik sepeda, naik jatuh lalu mencoba naik kemudian kembali terjatuh lagi. Dunia pendidikan di nusantara ini pun mengalami pasang-surut dalam perjalanannya. Dari mulai penyesuaian metode Hindu-Budha ke pendidikan masa Islam, dari perjuangan melalui tekanan, jajahan dan pen-diskriminasi-an pendidikan di masa kolonial yang pada masanya banyak melahirkan tokoh-tokoh pendidikan nasional seperi; Ki Hajar Dewantara, M. Natsir, HAMKA, Sultan Takdir Alisyahbana, Budi Utomo dan sederet pilar pendidikan Indonesia lainnya. Juga dari zaman kemerdekaan hingga era reformasi yang menyisakan hitam-putih pendidikan Indonesia.</p>
<p>Tidak salah bila bangsa ini memberikan apresiasi positif berupa penghargaan semacam bantuan beasiswa atau jaminan lainnya, yang pemerintah berikan kepada anak bangsa berprestasi supaya lebih berhasil, yang di harapkan dapat menambal lubang-lubang perjuangan pendahulu mereka dalam memperbaiki pendidikan masyarakat tanah air sehingga mengharapkan peningkatan signifikan dan mewujudkan masyarakat madani yang berintelektual. Seperti saat ini saja, pendidikan dasar pun sudah dapat dirasakan dan diterima semua lapisan masyarakat tanpa membedakan status social-ekonomi walaupun masih banyak juga anak-anak yang berkeliaran menyambung hidup disaat jam-jam belajar berlangsung. Namun yang menjadi pertanyaan besar, apa dengan penghargaan, beasiswa, serta layanan pendidikan lainnya yang diatur oleh kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini dapat menjamin pendidikan emosi/moral anak bangsa akan terjaga dan sesukses pendidikan intelektualitasnya..??</p>
<p>Disinilah urgennya peran Adab, disamping diterapkannya kecerdasan intelektual masyarakat terutama anak bangsa, adab juga harus menjadi good habbit masyarakat Indonesia. Kecerdasan intelektual saja belum cukup untuk membekali anak negri dalam mengarungi zaman, menjaga martabat bangsa dan mencapai kesuksesan hidup. Karena intelegensi/IQ bukanlah satu-satunya potensi yang berperan dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang sebab selebihnya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti EQ &amp; SQ yang kemudian dipadukan menjadi ESQ. Daniel Goleman menyebutkan bahwa kontribusi IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang hanyalah berkisar 20% sementara 80% lainnya ditentukan oleh yang dinamakan EQ. Karena emosional adalah bagian dari adab, dan adab adalah kecerdasan emosional yang ditempa dengan kecerdasan spiritual.</p>
<p>Parlindungan Marpaung penulis buku best seller “Setengah Isi Setengah Kosong”, diakhir penutup pada bukunya “Fulfilling Life” ia menulis sebuah do’a yang indah untuk anaknya; “Tuhan..berilah hamba seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan mengenal diri sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan..”. Indah bukan? Itulah perpaduan Emotional Quotient dan Spiritual Quotient yang dipinta Marpaung untuk mendidik anaknya. Itulah Adab.</p>
<p>Kata ‘al-Adabu’ pada masa kejayaan Islam digunakan dalam arti umum, yaitu semua ilmu pengetahuan (Az-Zubaidi I:144). Menurut Ma’luf selain digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan juga untuk ilmu yang khusus berkaitan dengan keindahan atau sastra. Disini menunjukkan adanya perubahan makna dari umum menjadi khusus. Kata ‘al-Adabu’ dalam bahasa Arab bermakna ‘husnul akhlaaq wa fi’lul makaarim’ yakni budi pekerti yang baik dan perilaku yang terpuji. Kemudian kata itu berarti pula ‘adh-Dhorfu’ yaitu sopan santun, dan ‘riyaadlotun nafsi wa mahaasinul akhlaaq’ yang berarti melatih/mendidik jiwa dan memperbaiki akhlak. Kata-kata ini menunjukkan kepada makna akhlak yang baik.</p>
<p>Pendidikan moral atau yang dikenal dengan adab harus lebih dini diberikan kepada seorang anak sebelum diberikannya pengajaran ilmu pengetahuan lain. Karena adab adalah pondasi kuat semua ilmu pengetahuan dan kebijaksanaaan. Hal ini menunjukkan pada proses ta’dib terjadi sebelum ta’lim, makna ini sejalan dengan hadits Nabi s.a.w dari Anas r.a riwayat Ibnu Hibban (lihat juga Fathul Baari Syarah Shohih Bukhori jilid I hal 190). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat M. Nashih Ulwan yang intinya menjelaskan, anak usia 7-14 tahun adalah fase yang yang wajib dipupuk pendidikan adab, lalu usia 14-16 lebih di beri pengajaran-pengajaran lain. Hal ini tidak berarti ilmu pengetahuan tidak boleh/tidak penting di berikan sejak kecil namun pendidikan adab mendapat prioritas utama, sehingga setelah berilmu tidak hanya pintar tetapi cerdas dan beradab.</p>
<p>Seperti kalimat dari do’a seorang Marpaung diatas, kalimat ‘mengenal Tuhan’ dengan ‘mengenal diri sendiri’ disebut sebelum kata ‘ilmu’ dan kontekstualnya dijadikan landasan ilmu pengetahuan. Juga seperti sebuah cerita dalam bahasa arab yang mengisahkan Pangeran Inggris saat kecil yang malas belajar dan mempunyai kesombongan terhadap gurunya bahwa ia akan menjadi seorang raja. Ayahnya, Raja Inggris menegur “..kaifa takuunu maalikan idza lam tataadzdzab wa tata’allam..?!”, bagaimana engkau akan menjadi seorang raja jika tidak beradab dan berilmu. Disini kata ‘tataadzdzab’ yang berarti beradab, disebut sebelum kalimat ‘tata’allam’ yang berarti berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral/adab merupakan pendidikan yang pertama dan utama.</p>
<p>Hal ini yang harus diperhatikan lebih serius oleh para praktisi pendidikan dan dikaji lebih lanjut oleh pemerintah untuk diterapkan pada system pendidikan Indonesia. Apa gunanya bila berilmu tapi tak beradab? Apa gunanya berintelektualitas tinggi namun bermental bobrok? Apa gunanya menjadi dokter hebat bila ilmunya disalah gunakan? Apa gunanya menjadi ekonom hebat namun malah menipu rakyat?. Bahkan seorang pengurus mushola yang tidak mampu belajar di perguruan tinggi tetapi mempunyai adab lebih mulia dari pada mereka yang menyalah gunakan ilmunya. Wallahu ‘alam []</p>
<p>Oleh : Ayyash Aqiel (Pendidikan Sejarah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
