<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Smart Magazine &#187; Artikel dari Anak Sejarah</title>
	<atom:link href="http://smart.stkip-persis.ac.id/category/kampus/artikel-dari-anak-sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smart.stkip-persis.ac.id</link>
	<description>Majalah Mahasiswa STKIP Persis</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 11:12:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perhatian Allah Terhadap Sejarah</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 06:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Allah menciptakan manusia segalanya berdasarkan ketentuan dan aturan dari-Nya.  Jika kita hitung sudah berapa banyak manusia yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini? Mungkin tidak akan pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Allah menciptakan manusia segalanya berdasarkan ketentuan dan aturan dari-Nya.  Jika kita hitung sudah berapa banyak manusia yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini? Mungkin tidak akan pernah terhitung, jangankan dari manusia pertama (Adam) manusia yang masih hidup saja akan sulit sekali untuk di hitung.</p>
<p>Dan dari sekian banyak ciptaan-Nya itu tidak akan pernah ada satu pun yang sama meski ada yang di katagorikan kembar pasti selalu ada bedanya, bukan hanya dari bentuk fisik atau pun tabiat manusia itu yang berbeda bahkan pengalaman hidup manusia pun dari dulu sampai <span id="more-99"></span>sekarang dan mungkin sampai hari akhir pun tidak akan pernah sama dan semua itu karena menandakan bahwa betapa besarnya kekuasaan Allah.</p>
<p>Dari beribu bahkan berjuta manusia yang lebih dahulu Allah ciptakan ada pula berjuta pelajaran yang Allah titipkan dari mereka untuk kita, tinggal kita kembalikan kepada manusia hari ini sejauh manakah manusia itu bisa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk hari ini bahkan untuk masa depan, padahal Allah pun telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melihat sesuatu yang telah berlalu dari mereka, seperti dalam Q.S Al-Hasr ayat 18:</p>
<blockquote><p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.</p></blockquote>
<p>Dengan ayat itu sudah jelas bahwa Allah swt begitu memperhatikan bahkan memperingatkan manusia khususnya orang yang beriman untuk memperhatikan pengalaman dirinya serta pengalaman orang lain untuk di jadikan pedoman dalam melangkah agar bisa menjadi yang lebih baik dari orang-orang terdahulu.</p>
<p>Dalam Al-Quran, Allah pun banyak mengisahkan dan mengupas sejarah orang-orang terdahulu baik yang hidup pada zaman Nabi Muhammad mau pun sebelum beliau.  Dan dengan itu menandakan begitu berharganya sejarah di sisi Allah.</p>
<p>By: History 5th smt</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/10/perhatian-allah-terhadap-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Intelegensi &amp; Adab</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 07:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[“Eh…jeng, saya bangga deh anak saya bentar lagi jadi dokter,
minggu depan mau wisuda hebat ya anak saya..?!”
“Oh gitu jeng….ya lebih hebat anak saya dong jeng, anak saya tuh dapet beasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Eh…jeng, saya bangga deh anak saya bentar lagi jadi dokter,<br />
minggu depan mau wisuda hebat ya anak saya..?!”<br />
“Oh gitu jeng….ya lebih hebat anak saya dong jeng, anak saya tuh dapet beasiswa dari pemerintah buat ngelanjutin S2 di luar negri supaya jadi ekonom hebat …!”<br />
Kontras….disamping ibu-ibu bawel yang lagi ngebanggain anak-anak nya, ada seorang ibu yang Cuma mesem-mesem doank. <span id="more-65"></span>Ibu itu di tanya oleh salah satu dari ketiga ibu yang lagi unjuk kebanggaan .<br />
“anak jeng gimana? dari tadi ko diem terus cerita dong!”<br />
“ah…..anak saya mah bu Cuma tamatan madrasah Aliyah, ga dilanjutin kuliah, jadi muadzin mushola aja saya mah udah seneng bu..” jawabnya agak minder lalu dibalas senyum sinis terkesan ngejek dari si jeng-jeng yang nge-jengkelin itu.</p></blockquote>
<p>Penggalan cerita diatas menggambarkan seperti apa persepsi yang berbeda-beda dari sebagian masyarakat terhadap pendidikan dan hasilnya, dan bagaimana interpretasi sebuah <span class="fullpost">kata ‘hebat’ dan  kesuksesan dalam pendidikan yang berbeda-beda pula di kalangan penduduk negara berkembang ini. Apa kita tertarik pada konsep sukses pendidikan seperti ibu yang mempunyai anak yang bisa adzan dan mampu memakmurkan mushola? atau kita lebih tertarik pada konsep keberhasilan pendidikan seperti ibu yang anaknya mendapat penghargaan dan jaminan dari pemerintah?. Entahlah….. mari kita mengaca diri.</span></p>
<p>Bak seorang anak yang sedang belajar naik sepeda, naik jatuh lalu mencoba naik kemudian kembali terjatuh lagi. Dunia pendidikan di nusantara ini pun mengalami pasang-surut dalam perjalanannya. Dari mulai penyesuaian metode Hindu-Budha ke pendidikan masa Islam, dari perjuangan melalui tekanan, jajahan dan pen-diskriminasi-an pendidikan di masa kolonial yang pada masanya banyak melahirkan tokoh-tokoh pendidikan nasional seperi; Ki Hajar Dewantara, M. Natsir, HAMKA, Sultan Takdir Alisyahbana, Budi Utomo dan sederet pilar pendidikan Indonesia lainnya. Juga dari zaman kemerdekaan hingga era reformasi yang menyisakan hitam-putih pendidikan Indonesia.</p>
<p>Tidak salah bila bangsa ini memberikan apresiasi positif berupa penghargaan semacam bantuan beasiswa atau jaminan lainnya, yang pemerintah berikan kepada anak bangsa berprestasi supaya lebih berhasil, yang di harapkan dapat menambal lubang-lubang perjuangan pendahulu mereka dalam memperbaiki pendidikan masyarakat tanah air sehingga mengharapkan peningkatan signifikan dan mewujudkan masyarakat madani yang berintelektual. Seperti saat ini saja, pendidikan dasar pun sudah dapat dirasakan dan diterima semua lapisan masyarakat tanpa membedakan status social-ekonomi walaupun masih banyak juga anak-anak yang berkeliaran menyambung hidup disaat jam-jam belajar berlangsung. Namun yang menjadi pertanyaan besar, apa dengan penghargaan, beasiswa, serta layanan pendidikan lainnya yang diatur oleh kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini dapat menjamin pendidikan emosi/moral anak bangsa akan terjaga dan sesukses pendidikan intelektualitasnya..??</p>
<p>Disinilah urgennya peran Adab, disamping diterapkannya kecerdasan intelektual masyarakat terutama anak bangsa, adab juga harus menjadi good habbit masyarakat Indonesia. Kecerdasan intelektual saja belum cukup untuk membekali anak negri dalam mengarungi zaman, menjaga martabat bangsa dan mencapai kesuksesan hidup. Karena intelegensi/IQ bukanlah satu-satunya potensi yang berperan dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang sebab selebihnya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti EQ &amp; SQ yang kemudian dipadukan menjadi ESQ. Daniel Goleman menyebutkan bahwa kontribusi IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang hanyalah berkisar 20% sementara 80% lainnya ditentukan oleh yang dinamakan EQ. Karena emosional adalah bagian dari adab, dan adab adalah kecerdasan emosional yang ditempa dengan kecerdasan spiritual.</p>
<p>Parlindungan Marpaung penulis buku best seller “Setengah Isi Setengah Kosong”, diakhir penutup pada bukunya “Fulfilling Life” ia menulis sebuah do’a yang indah untuk anaknya; “Tuhan..berilah hamba seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan mengenal diri sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan..”. Indah bukan? Itulah perpaduan Emotional Quotient dan Spiritual Quotient yang dipinta Marpaung untuk mendidik anaknya. Itulah Adab.</p>
<p>Kata ‘al-Adabu’ pada masa kejayaan Islam digunakan dalam arti umum, yaitu semua ilmu pengetahuan (Az-Zubaidi I:144). Menurut Ma’luf selain digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan juga untuk ilmu yang khusus berkaitan dengan keindahan atau sastra. Disini menunjukkan adanya perubahan makna dari umum menjadi khusus. Kata ‘al-Adabu’ dalam bahasa Arab bermakna ‘husnul akhlaaq wa fi’lul makaarim’ yakni budi pekerti yang baik dan perilaku yang terpuji. Kemudian kata itu berarti pula ‘adh-Dhorfu’ yaitu sopan santun, dan ‘riyaadlotun nafsi wa mahaasinul akhlaaq’ yang berarti melatih/mendidik jiwa dan memperbaiki akhlak. Kata-kata ini menunjukkan kepada makna akhlak yang baik.</p>
<p>Pendidikan moral atau yang dikenal dengan adab harus lebih dini diberikan kepada seorang anak sebelum diberikannya pengajaran ilmu pengetahuan lain. Karena adab adalah pondasi kuat semua ilmu pengetahuan dan kebijaksanaaan. Hal ini menunjukkan pada proses ta’dib terjadi sebelum ta’lim, makna ini sejalan dengan hadits Nabi s.a.w dari Anas r.a riwayat Ibnu Hibban (lihat juga Fathul Baari Syarah Shohih Bukhori jilid I hal 190). Hal ini juga diperkuat oleh pendapat M. Nashih Ulwan yang intinya menjelaskan, anak usia 7-14 tahun adalah fase yang yang wajib dipupuk pendidikan adab, lalu usia 14-16 lebih di beri pengajaran-pengajaran lain. Hal ini tidak berarti ilmu pengetahuan tidak boleh/tidak penting di berikan sejak kecil namun pendidikan adab mendapat prioritas utama, sehingga setelah berilmu tidak hanya pintar tetapi cerdas dan beradab.</p>
<p>Seperti kalimat dari do’a seorang Marpaung diatas, kalimat ‘mengenal Tuhan’ dengan ‘mengenal diri sendiri’ disebut sebelum kata ‘ilmu’ dan kontekstualnya dijadikan landasan ilmu pengetahuan. Juga seperti sebuah cerita dalam bahasa arab yang mengisahkan Pangeran Inggris saat kecil yang malas belajar dan mempunyai kesombongan terhadap gurunya bahwa ia akan menjadi seorang raja. Ayahnya, Raja Inggris menegur “..kaifa takuunu maalikan idza lam tataadzdzab wa tata’allam..?!”, bagaimana engkau akan menjadi seorang raja jika tidak beradab dan berilmu. Disini kata ‘tataadzdzab’ yang berarti beradab, disebut sebelum kalimat ‘tata’allam’ yang berarti berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral/adab merupakan pendidikan yang pertama dan utama.</p>
<p>Hal ini yang harus diperhatikan lebih serius oleh para praktisi pendidikan dan dikaji lebih lanjut oleh pemerintah untuk diterapkan pada system pendidikan Indonesia. Apa gunanya bila berilmu tapi tak beradab? Apa gunanya berintelektualitas tinggi namun bermental bobrok? Apa gunanya menjadi dokter hebat bila ilmunya disalah gunakan? Apa gunanya menjadi ekonom hebat namun malah menipu rakyat?. Bahkan seorang pengurus mushola yang tidak mampu belajar di perguruan tinggi tetapi mempunyai adab lebih mulia dari pada mereka yang menyalah gunakan ilmunya. Wallahu ‘alam []</p>
<p>Oleh : Ayyash Aqiel (Pendidikan Sejarah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/antara-intelegensi-adab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Sejarah Pendidikan Indonesia Masa Kolonial</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/mengintip-sejarah-pendidikan-indonesia-masa-kolonial/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/mengintip-sejarah-pendidikan-indonesia-masa-kolonial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 07:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah pendidikan yang akan diulas adalah sejak kekuasaan Belanda yang menggantikan Portugis di Indonesia. Brugmans menyatakan pendidikan ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dan politik Belanda di Indonesia (Nasution, 1987:3). Pendidikan dibuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah pendidikan yang akan diulas adalah sejak kekuasaan Belanda yang menggantikan Portugis di Indonesia. Brugmans menyatakan pendidikan ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dan politik Belanda di Indonesia (Nasution, 1987:3). Pendidikan dibuat berjenjang, tidak berlaku untuk semua kalangan, dan berdasarkan tingkat kelas. Pendidikan lebih diutamakan untuk anak-anak Belanda, sedangkan untuk anak-anak Indonesia dibuat dengan kualitas yang lebih rendah. Pendidikan bagi pribumi berfungsi untuk menyediakan tenaga kerja murah yang sangat dibutuhkan oleh penguasa. Sarana pendidikan dibuat dengan biaya yang <span id="more-64"></span>rendah dengan pertimbangan kas yang terus habis karena berbagai masalah peperangan.</p>
<p>Kesulitan keuangan dari Belanda akibat Perang Dipenogoro pada tahun 1825 sampai 1830 (Mestoko dkk,1985:11, Mubyarto,1987:26) serta perang Belanda dan Belgia (1830-1839) mengeluarkan biaya yang mahal dan menelan banyak korban. Belanda membuat siasat agar pengeluaran untuk peperangan dapat ditutupi dari negara jajahan. Kerja paksa dianggap cara yang paling ampuh untuk memperoleh keuntungan yang maksimal yang dikenal dengan cultuurstelsel atau tanam paksa (Nasution, 1987:11). Kerja paksa dapat dijalankan sebagai cara yang praktis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Rakyat miskin selalu menjadi bagian yang dirugikan karena digunakan sebagai tenaga kerja murah. Rakyat miskin yang sebagian bekerja sebagai petani juga dimanfaatkan untuk menambah kas negara penguasa.</p>
<p>Untuk melancarkan misi pendidikan demi pemenuhan tenaga kerja murah, pemerintah mengusahakan agar bahasa Belanda bisa diujarkan oleh masyarakat untuk mempermudah komunikasi antara pribumi dan Belanda. Lalu, bahasa Belanda menjadi syarat Klein Ambtenaarsexamen atau ujian pegawai rendah pemerintah pada tahun 1864. (Nasution, 1987:7). Syarat tersebut harus dipenuhi para calon pegawai yang akan digaji murah. Pegawai sedapat mungkin dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang telah mempunyai kekuasaan tradisional dan berpendidikan untuk menjamin keberhasilan perusahaan (Nasution, 1987:12). Jadi, anak dari kaum ningrat dianggap dapat membantu menjamin hasil tanam paksa lebih efektif, karena masyarakat biasa mengukuti perintah para ningrat. Suatu keadaan yang sangat ironis, kehidupan terdiri dari lapisan-lapisan sosial yaitu golongan yang dipertuan (orang Belanda) dan golongan pribumi sendiri terdapat golongan bangsawan dan orang kebanyakan.</p>
<p>Pemerintah Belanda lambat laun seolah-olah bertanggung jawab atas pendidikan anak Indonesia melalui politik etis. Politik etis dijalankan berdasarkan faktor ekonomi di dalam maupun di luar Indonesia, seperti kebangkitan Asia, timbulnya Jepang sebagai Negara modern yang mampu menaklukkan Rusia, dan perang dunia pertama (Nasution, 1987:17). Politik etis terutama sebagai alat perusahaan raksasa yang bermotif ekonomis agar upah kerja serendah mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Irigasi, transmigrasi, dan pendidikan yang dicanangkan sebagai kedok untuk siasat meraup keuntungan. Irigasi dibuat agar panen padi tidak terancam gagal dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Transmigrasi berfungsi untuk penyebaran tenaga kerja, salah satunya untuk pekerja perkebunan. Politik etis menjadi program yang merugikan rakyat.</p>
<p>Pendidikan dasar berkembang sampai tahun 1930 dan terhambat karena krisis dunia, tidak terkecuali menerpa Hindia Belanda yang disebut mangalami malaise (Mestoko dkk, 1985 :123). Masa krisis ekonomi merintangi perkembangan lembaga pendidikan. Lalu, lembaga pendidikan dibuat dengan biaya yang lebih murah. Kebijakan yang dibuat termasuk penyediaan tenaga pengajar yang terdiri dari tenaga guru untuk sekolah dasar yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan guru (Mestoko, 1985:158), bahkan lulusan sekolah kelas dua dianggap layak menjadi guru. Masalah lain yang paling mendasar adalah penduduk sulit mendapatkan uang sehingga pendidikan bagi orang kurang mampu merupakan beban yang berat. Jadi, pendidikan semakin sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Pendidikan dibuat untuk alat penguasa, orang kebanyakan menjadi target yang empuk diberi pengetahuan untuk dijadikan tenaga kerja yang murah.</p>
<p>Pendidikan dibuat oleh Belanda memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, gradualisme yang luar biasa untuk penyediaan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Belanda membiarkan penduduk Indonesia dalam keadaan yang hampir sama sewaktu mereka menginjakkan kaki, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Kedua, dualisme diartikan berlaku dua sistem pemerintahan, pengadilan dari hukum tersendiri bagi golongan penduduk. Pendidikan dibuat terpisah, pendidikan anak Indonesia berada pada tingkat bawah. Ketiga, kontrol yang sangat kuat.</p>
<p>Pemerintah Belanda berada dibawah kontrol Gubernur Jenderal yang menjalankan pemerintahan atas nama raja Belanda. Pendidikan dikontrol secara sentral, guru dan orang tua tidak mempunyai pengeruh langsung politik pendidikan. Keempat, Pendidikan beguna untuk merekrut pegawai. Pendidikan bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi pegawai perkebunan sebagai tenaga kerja yang murah. Kelima, prinsip konkordasi yang menjaga agar sekolah di Hindia Belanda mempunyai kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah di negeri Belanda, anak Indonesia tidak berhak sekolah di pendidikan Belanda. Keenam, tidak adanya organisasi yang sistematis. Pendidikan dengan ciri-cri tersebut diatas hanya merugikan anak-anak kurang mampu. Pemerintah Belanda lebih mementingkan keuntungan ekonomi daripada perkembangan pengetahuan anak-anak Indonesia.</p>
<p>Pemerintah Belanda juga membuat sekolah desa. Sekolah desa sebagai siasat untuk mengeluarkan biaya yang murah. Sekolah desa diciptakan pada tahun 1907. Tipe sekolah desa yang dianggap paling cocok oleh Gubernur Jendral Van Heutz sebagai sekolah murah dan tidak mengasingkan dari kehidupan agraris (Nasution, 1987:78). Kalau lembaga pendidikan disamakan dengan sekolah kelas dua, pemerintah takut penduduk tidak bekerja lagi di sawah. Penduduk diupayakan tetap menjadi tenaga kerja demi pengamankan hasil panen.</p>
<p>Sekolah desa dibuat dengan biaya serendah mungkin. Pesantren diubah menjadi madrasah yang memiliki kurikulum bersifat umum. Pesatren dibumbui dengan pengetahuan umum. Cara tersebut dianggap efektif, sehingga pemerintah tidak usah membangun sekolah dan mengeluarkan biaya (Nasution, 1987:80). Guru sekolah diambil dari lulusan sekolah kelas dua, dianggap sanggup menjadi guru sekolah desa. Guru yang lebih baik akan digaji lebih mahal dan tidak bersedia untuk mengajar di lingkungan desa.</p>
<p>Masa penjajahan Belanda berkaitan dengan pendidikan merupakan catatan sejarah yang kelam. Penjajah membuat pendidikan sebagai alat untuk meraup keuntungan melalui tenaga kerja murah. Sekolah juga dibuat dengan biaya yang murah, agar tidak membebani kas pemerintah. Politik etis menjadi tidak etis dalam pelaksanaannya, kepentingan biaya perang yang sangat mendesak dan berbagai masalah lain menjadi kenyataan yang tercatat dalam sejarah pendidikan masa Belanda.</p>
<p>Belanda digantikan oleh kekuasaan Jepang. Jepang membawa ide kebangkitan Asia yang tidak kalah liciknya dari Belanda. Pendidikan semakin menyedihkan dan dibuat untuk menyediakan tenaga cuma-cuma (romusha) dan kebutuhan prajurit demi kepentingan perang Jepang (Mestoko, 1985 dkk:138). Sistem penggolongan dihapuskan oleh Jepang. Rakyat menjadi alat kekuasaan Jepang untuk kepentingan perang. Pendidikan pada masa kekuasaan Jepang memiliki landasan idiil hakko Iciu yang mengajak bangsa Indonesia berkerjasama untuk mencapai kemakmuran bersama Asia raya. Pelajar harus mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi yang ketat.</p>
<p>Sejarah Belanda sampai Jepang dipahami sebagai alur penjelasan kalau pendidikan digunakan sebagai alat komoditas oleh penguasa. Pendidikan dibuat dan diajarkan untuk melatih orang-orang menjadi tenaga kerja yang murah. Runtutan penjajahan Belanda dan Jepang menjadikan pendidikan sebagai senjata ampuh untuk menempatkan penduduk sebagai pendukung biaya untuk perang melalui berbagai sumber pendapatan pihak penjajah. Pendidikan pula yang akan dikembangkan untuk membangun negara Indonesia setelah merdeka.</p>
<p>Setelah kemerdekaan, perubahan bersifat sangat mendasar yaitu menyangkut penyesuaian bidang pendidikan. Badan pekerja KNIP mengusulkan kepada kementrian pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan supaya cepat untuk menyediakan dan mengusahakan pembaharuan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan rencana pokok usaha pendidikan (Mestoko, 1985:145). Lalu, pemerintah mengadakan program pemberantasan buta huruf. Program buta huruf tidak mudah dilaksanakan dengan berbagai keterbatasan sumber daya, kendala gedung sekolah dan guru. Kementrian PP dan K juga mengadakan usaha menambah guru melalui kursus selama dua tahun. Kursus bahasa jawa, bahasa Inggris, ilmu bumi, dan ilmu pasti(Mestoko dkk, 1985:161). Program tersebut menunjukkan jumlah orang yang buta huruf seluruh Indonesia sekitar 32,21 juta (kurang lebih 40%), buta huruf pada tahun 1971. Buta huruf yang dimaksud adalah buta huruf latin (Mestoko dkk, 1985:327). Jadi, kegiatan pemberantasan buta huruf di pedesaan yang diprogramkan oleh pemerintah untuk menanggulangi angka buta aksara di Indonesia dan buta pengetahuan dasar, tetapi pendidikan kurang lebih tidak berdampak pada rumah tangga kurang mampu.</p>
<p>Kemerdekaan Indonesia tidak membuat nasib orang tidak mampu terutama dari sektor pertanian menjadi lebih baik. Pemaksaan atau perintah halus gampang muncul kembali, contoh yang paling terkenal dengan akibat yang hampir serupa seperti cara-cara dan praktek pada jaman Jepang, bimas gotong royong yang diadakan pada tahun 1968-1969 disebut bimas gotong royong karena merupakan usaha gotong royong antara pemerintah dan swasta (asing dan nasional) untuk meyelenggarakan intensifikasi pertanian dengan menggunakan metode Bimas (Fakih, 2002:277, Mubyarto, 1987:37). Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi beras dalam waktu sesingkat mungkin dengan mengenalkan bibit padi unggul baru yaitu Peta Baru (PB) 5 dan PB 8.37. Pada jaman penjajahan Belanda juga pernah dilakukan cultuurstelsel, Jepang memaksakan penanaman bibit dari Taiwan. Jadi, rakyat dipaksakan mengikuti kemauan dari pihak penguasa. Cara tersebut kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai cara untuk menghasilkan panen yang lebih maksimal. Muller (1979:73) menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia bahwa sebagaian besar masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, paling-paling hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling minim, dan hampir tidak bisa beradaptasi aktif sedangkan golongan atas hidup dalam kemewahan.</p>
<p>Pendidikan pada masa Belanda, Jepang dan setelah kemerdekaan sulit dicapai oleh orang-orang dari rumah tangga kurang mampu. Mereka diajarkan dan diberi pengetahuan untuk kepentingan pihak penguasa. Mereka dijadikan tenaga kerja yang diandalkan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Setelah jaman kemerdekaan, rakyat dari rumah tangga kurang mampu terus menjadi sumber pemaksaan secara halus untuk pengembangan bibit padi unggul. Pendidikan sebagai alat penguasa untuk mengembangkan program yang dianggap dapat mendukung peningkatan pemasukan pemerintah.</p>
<p>*) Ayyash ‘Aqiel (Pendidikan Sejarah) dari beberapa sumber.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/06/mengintip-sejarah-pendidikan-indonesia-masa-kolonial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maukah menjadi Ibnu Taimiyah?</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/maukah-menjadi-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/maukah-menjadi-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 10:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Taimiyah…
Satu hal yang ngiris jika hari ini dari kalangan umat Islam tidak mengenal nama beliau, jangankan kalangan ustadz atau santri yang biasa bergelut dengan dunia Islam kalangan yang hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibnu Taimiyah…<br />
Satu hal yang ngiris jika hari ini dari kalangan umat Islam tidak mengenal nama beliau, jangankan kalangan ustadz atau santri yang biasa bergelut dengan dunia Islam kalangan yang hanya mengenal Islam dari keturunan dan tradisi oral (dari ceramah-ceramah ) setidaknya pasti pernah mendengar nama beliau, dan ada baiknya kita tahu perjalanan beliau sehingga menjadi Ulama besar.</p>
<p>Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy, itulah nama panjang beliau, beliau lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang  terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.</p>
<p>Ketika kecil beliau sudah hijrah ke damasyik bersama keluarganya karena negrinya saat itu diserang oleh kerajaan tartar. Namun dengan kecerdasan beliau setiba disana beliau mulai menghafal Al-Qur’an dan mencari ilmu kepada para ulama dan ahli hadist disana, dan memang kedatangan belaiu kepada para ulama menjadi menarik karena mereka tercengang dengan kecerdasan beliau. Ketika usia belasan tahun beliau mampu menguasi ilmu ushuludin, bidang tafsir, hadits bahkan bahsa Arab dalam kajian kitab pun beliau telah mengkaji Musnad Imam Ahmad beberapa kali, kutubu sittah, dan mujam Ar-Thabrani Al-kabir.</p>
<p>Satu hal yang mendukung kecerdasan beliau adalah beliau hidup dilingkungan Ulama sehingga kecerdasan yang dimillikinya semakin terasah. Selain kecerdasan intelektual yang beliau miliki ternyata secara spiritual pun beliau sangat cerdas dan bisa dikatakan bahwa beliau sangat zuhud, terbukti ketika beliau dihadapkan pada satu  masalah yang sulit beliau beristigfar hingga seribu kali hingga masalah itu dimudahkan oleh Allah, bukti lain bahwa walaupun beliau itu sudah menjadi Ulama besar beliau tetap terus mencari ilmu dan tidak merasa cukup dengan yang beliau miliki.</p>
<p>Dalam sebuah perjungan rasa tidak mungkin selalu berjalan mulus, begitupun dengan beliau dalam perjuangannya beliau di coba dengan di fitnah oleh orang – orang munafik sehingga beliau di penjara, namun hal itu beliau hadapi dengan tenang, tabah dan gembira dan tidak menghalangi beliau dalam berjuang membela Islam, justru beliau mengatakan:</p>
<p>“Sesungguhnya aku  menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”</p>
<p>“ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.</p>
<p>Itulah sejarah singkat perjalan beliau, tetapi sejarah bukanlah sebuah cerita yang hanya menjadi sebuah pengantar tidur tentu ada yang harus kita petik dalam sejarah itu. Begitupun dengan perjalanan Ibnu Taimiyah. Jika kita bandingkan perjuangan beliau dengan kita sekarang mungkin seperti membandingkan “becak dengan Truk” artinya perjuangan kita belum seberapa. Padahal fasilatas lebih mendukung dan lebih mudah, kalaupun beliau saat itu hidup dilingkungan Ulama, bukan berarti jadi alasan buat kita mengatakan pantesan karena kitapun hari ini banyak yang bisa mengantarkan kepada ke Ilmuan, tinggal kita mau ataukah tidak menjadi seperti beliau dalam mewakafkan jiwanya untuk Islam. Dan menjadi sebuah pertanyaan besar untuk kita  Apa yang telah kita berikan untuk Islam ???</p>
<p>Maukah menjadi Ibnu Taimiyah?<br />
Oleh: Ishsan Asyaparudin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2009/04/maukah-menjadi-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama Kebebasan</title>
		<link>http://smart.stkip-persis.ac.id/2008/03/agama-kebebasan/</link>
		<comments>http://smart.stkip-persis.ac.id/2008/03/agama-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 07:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Smart Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Anak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smart.stkip-persis.ac.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sedikit orang yang menggembor gemborkan untuk sebuah kebebasan bahkan hampir semua manusia di pelosok dunia menginginkan hal itu, kebebasan dalam berbagai asfek baik yang sifatnya aturan pemerintahan, kebudayaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan sedikit orang yang menggembor gemborkan untuk sebuah kebebasan bahkan hampir semua manusia di pelosok dunia menginginkan hal itu, kebebasan dalam berbagai asfek baik yang sifatnya aturan pemerintahan, kebudayaan yang berkembang, bahkan sampai wilayah agama pun doktrin-doktrin sebuah kebebasan menjadi wacana menarik dan sebuah cita-cita yang harus dicapai.</p>
<p>Kalau  kita telik dan melihat kebelakang kita bisa temui beberapa hal yang sebenarnya membuktikan bahwa sudah mendasarnya tentang kebebasan itu, namun konsep kebebasan itu lebih dulu diketahui oleh bangsa yang justru pada saat itu menjadi penjajah terhadap Negara kita yaitu Belanda, kita perhatikan beberapa peraturan pemerintah Belanda pada saat itu yang  menutup pintu kebebasan :</p>
<ol>
<li>dilarangnya menerjemahkan Al-Qur&#8217;an</li>
<li>dilarangnya menerapkan aturan agama dalam kehidupan</li>
<li>membatasi wilayah agama hanya sebatas ibadah ritual saja,</li>
</ol>
<p>Dari ketiga peraturan tersebut bisa kita analisis, kenapa pada saat itu pemerintah belanda melarang umat Islam dalam ke tiga hal tersebut?</p>
<p>Ternyata jika kita tinjau dari aspek keagaman ( Islam ), berbagai konsep mengenai kebebasan atau kemerdekaan itu dalam Al-Qur&#8217;an di kupas dengan tuntas dan ketika Pemerintah Belanda mengetahui hal tersebut mereka menutup pintu yang bisa mengantarkan bangsa Indonesia khususnya umat Islam kearah sana, artinya mereka lebih dulu tahu tentang teori kebebasan yang ada dalam Al-Qur&#8217;an, lalu apakah pada saat itu Umat Islam belum mengetahui hal itu? keterbatasan Informasi mungkin yang menjadi kendala pada saat itu sehingga terdahului pemerintah Belanda, namun ternyata pemerintah Belanda pun tak sesempurna yang mereka bayangkan dan dengan kehendak-Nya mereka memperbolehkan Umat Islam untuk beribadah Haji dan hal itu dijadikan kesempatan oleh Umat Islam untuk menimba ilmu tentang Islam dan dengan itu umat Islam yang pergi haji ketika pulang, mereka menjadi orang-orang yang melakukan pendobrakan terhadap doktrin-doktrin pemerintah Belanda dan dengan itu membuktikan  bahwa ternyata kontribusi umat Islam terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia sangat signivikan sekali. Dan memang agama Islam terlahir dengan kebebasan, seperti ketika Islam awal lahir menjadi sebuah agama yang membebaskan umat dari kejahiliyahan (kebodohan), ditegaskan kembali oleh sang Kholik dalam firmanNya : bahwa disisi Allah tidak ada perbedaan ras, kasta, klasifikasi social, dll. Tetapi disisi Allah semua manusia sama, hanya yang membedakannya adalah ketakwaan.</p>
<p>By: Ishsan Asyaparudin 5th smt P.Sejarah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smart.stkip-persis.ac.id/2008/03/agama-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
